Selasa, 21 Oktober 2014

Konflik di Papua bisa selesai oleh elit lokal

| 1.804 Views
id otsus papua, program merah putih
Jakarta (ANTARA News) - Konflik di Papua seharusnya dilihat sebagai fenomena sosial sehingga tidak perlu selalu direspon dengan pendekatan militer.

"Kita tak perlu takut konflik karena kebhinekaan ini memang rawan konflik. Yang perlu justru keterampilan menangani konflik di tingkat bawah, ini lewat dialog," kata pengamat militer Jaleswari Pramodhawardani dalam acara "Merah Putih" hasil kerjasama TVRI, RRI dan ANTARA yang tayang setiap Rabu malam.

Menurut dia, konflik di Papua juga ada tingkat-tingkatnya sehingga tidak bisa digeneralisir.

"Konflik ada tingkat-tingkatannya berarti penanganannya juga bertingkat. Pemerintah daerah harus bisa menyelesaikan, tokoh masyarakat bisa menyelesaikan, jadi tidak semua pemerintah pusat."

"Kita terlalu lama melihat Papua sebagai masalah keamanan, padahal di sana ada berbagai masalah. Di Papua ada hal strategis seperti tambang, ada persoalan sumber daya manusia. Masalah harus diurai dan konflik diletakkan secara proporsional," kata Jaleswari.

Dia mengingatkan bahwa di Papua terdapat banyak suku dan tersebar sehingga masyarakat adat pun sangat heterogen. "Karena itu tokoh adat diikutsertakan menyelesaikan konflik, berarti pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kultural," katanya.

Jaleswari juga mengemukakan pendekatan keamanan atau militer hanya digunakan sebagai cara terakhir mengatasi konflik.

Dia menilai sejak beberapa tahun lalu pemerintah telah meninggalkan pendekatan keamanan dalam menangani konflik di Papua.
(A038)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga