Rabu, 22 Oktober 2014

Tujuh karyawan TV pendukung Assad tewas di Suriah

| 3.023 Views
id perang saudara suriah, karyawan tv, pendukung assad
Beirut (ANTARA News) - Serangan terhadap stasiun televisi pendukung pemerintah di dekat Damaskus menewaskan tujuh karyawan pada Rabu, kata media pemerintah, sementara kelompok hak asasi menyatakan 17 orang tewas dalam kekerasan lain pada pekan "paling berdarah" pemberontakan 15 bulan.

Gambar siaran langsung televisi pemerintah menunjukkan kerusakan parah studio saluran satelit Al-Ikhbariya di luar ibukota itu, dengan beberapa kebakaran kecil masih terjadi, lapor AFP dan Reuters.

"Kelompok teroris menyerang kantor Al-Ikhbariya, menanam bahan peledak di studio itu dan meledakkannya bersama peralatan tersebut," kata Menteri Penerangan Omran Zohbi kepada televisi pemerintah dalam wawancara langsung.

"Mereka melakukan pembantaian terburuk terhadap media, membunuh wartawan dan petugas keamanan," kata Zohbi, dengan menambahkan bahwa sejumlah karyawan diculik.

Yang tewas terdiri atas tiga wartawan dan empat penjaga keamanan, kata media negara tersebut.

Pengamat pers Wartawan Tanpa Perbatasan menyeru anggota pengamat Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menghentikan kegiatan pada 16 Juni akibat kekerasan memburuk, mengunjungi tempat kejadian itu untuk memastikan bukti.

"Lembaga pemberitaan tidak boleh menjadi sasaran pihak bersengketa," kata pengawas tersebut.

"Tapi, kami menyesalkan dalam istilah paling kuat siaran media itu, yang menghasut kebencian dan kekerasan terhadap warga," katanya.

Dalam kekerasan lain pada Rabu, 10 tentara tewas sebelum fajar di provinsi Deir Ezzor, Suriah timur, sementara 15 tentara membelot ke pemberontak, kata Pengamat Hak Asasi Manusia Suriah.

Di provinsi barat laut, Idlib, dua warga dan lima tentara tewas, di antaranya seorang kolonel pasukan khusus Pengawal Republik.

Lebih dari 15.800 orang tewas sejak pemberontakan pecah terhadap Presiden Bashar Assad pada Maret tahun lalu, kata Pengamat itu, dengan menambahkan bahwa tujuh hari hingga Selasa adalah yang paling berdarah.

"Pembunuhan meningkat," kata pengawas tersebut.

"Pekan lalu adalah yang paling berdarah dari Revolusi Suriah," kata direktur Pengamat Rami Abdel Rahman kepada kantor berita Prancis AFP melalui telepon, dengan menambahkan bahwa 916 orang tewas sejak 20 hingga 26 Juni.

Dari 15.804 orang tewas sejak Maret 2011, 4.681 tewas sejak gencatan senjata dukungan PBB seharusnya berlaku pada 12 April, katanya.

Dari mereka, sekitar seperempat -1.197 orang- tewas sejak pengamat PBB, yang akan mengawasi rencana perdamaian itu, menghentikan kegiatan akibat kekerasan meningkat.

"Bulan lalu, 26 Mei-26 Juni, adalah yang paling mematikan sejak awal pemberontakan itu. Dalam masa itu, 3.426 orang tewas," kata Abdel Rahman. (B002/Z002)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga