Senin, 22 September 2014

Spekulasi itu biasa dalam bisnis penerbangan

Rabu, 27 Juni 2012 22:52 WIB | 2.930 Views
Spekulasi itu biasa dalam bisnis penerbangan
(ANTARA/Ahmad Subaidi)
Jakarta (ANTARA News) - Pakar penerbangan Chappy Hakim menilai wajar apapun pandangan dan analisis masyarakat, termasuk dugaan sabotase dan spekulasi, terhadap kecelakaan pesawat seperti berlaku pada jatuhnya Sukhoi Superjet 100 beberapa waktu lalu.

Ia menyatakan, di bawah tuntutan keingintahuan masyarakat dan media massa untuk segera mengetahui penyebab kecelakaan, maka wajar bila analisis apapun.

"Semua itu wajar dan biasa saja, karena seperti pernah disebut majalah penerbangan internasional, aviation is a multi-billion dollar bussiness (penerbangan adalah bisnis multimiliar dolar)," kata mantan Kepala Staf Angkatan Udara ini dalam diskusi tahunan "Mengapa Sukhoi menabrak Gunung Salak" di BPPT, Rabu sore.

Chappy juga mengungkapkan bahwa banyak pihak yang memiliki kepentingan dalam dunia penerbangan, sehingga diantaranya memicu persaingan bisnis.

Penerbangan, sebut Chappy, adalah bidang usaha bergengsi dan penuh dengan hal mewah.

"Khusus Sukhoi Superjet 100, lebih menarik lagi, karena ini adalah pesawat produk kebanggaan Rusia yang berada di bawah payung kerjasama jangka panjang dengan Boeing, Amerika Serikat," katanya.

Tidak hanya itu, pesawat ini juga banyak menggunakan komponen kerjasama beberapa perusahaan terkenal Eropa yang sama dengan perusahaan mitra kerja Airbus, sambung dia.

Bisnis penerbangan juga selalu diselimuti rumor, gosip, persaingan, bahkan misteri, dan semuanya akan muncul begitu pesawat mengalami kecelakaan.

Sementara itu, pengamat kemiliteran Salim Said mengajak masyarakat untuk tidak gampang mengaitkan penyebab kecelakaan pesawat dengan sabotase atau bahkan permainan intelijen.

"Selalu tekankan pada prosedur penyelidikan normal, sampai kita punya dasar untuk menaruh curiga. Jangan biasakan terlalu percaya pada konspirasi. Tapi itu bukan berarti dikesampingkan," demikian  Salim.

(feb)

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga