Jumat, 24 Oktober 2014

Kemenkeu: laju inflasi relatif terkendali

| 3.084 Views
id inflasi terkendali, gejolak rupiah
...tapi lagi-lagi kita jangan lengah, kalau dalam situasi sulit seperti ini berat lah nanti."
Jakarta (ANTARA News) - Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan, laju inflasi hingga menjelang pertengahan tahun masih terkendali dan sesuai dengan perkiraan pemerintah.

"Saya rasa inflasi kita relatif terkendali dalam arti pelemahan dari beberapa komoditas utama termasuk energi dan di lain pihak juga memang ada pergolakan di rupiah," ujarnya di Jakarta, Rabu malam.

Namun, Mahendra mengingatkan perekonomian global saat ini sulit diprediksi dan dampaknya dapat mempengaruhi pertumbuhan serta asumsi makro lainnya dalam APBN-Perubahan, termasuk laju inflasi.

"Secara menyeluruh saya melihat masih baik, tapi lagi-lagi kita jangan lengah, kalau dalam situasi sulit seperti ini berat lah nanti," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan laju inflasi pada akhir tahun bisa di bawah angka lima persen dan tidak melampaui asumsi yang ditetapkan dalam APBN Perubahan sebesar 6,8 persen.

Menurut dia, hal tersebut dapat terwujud karena inflasi Mei tercatat sebesar 0,07 persen sehingga inflasi tahun kalender baru mencapai 1,15 persen dan secara tahunan (year on year) 4,45 persen.

"Semoga ini bisa tetap dipertahankan, sehingga kita bisa mencapai inflasi di bawah lima persen," kata Menkeu.

Menkeu mengatakan rendahnya angka inflasi tersebut dikarenakan masyarakat mulai memahami bahwa penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak jadi dilakukan dan daya beli terjaga.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana juga mengatakan apabila tren inflasi seperti ini maka akhir tahun inflasi bisa mencapai angka kisaran 5,3 persen.

Namun, apabila tidak ada kebijakan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi maupun listrik maka beban inflasi akan berkurang sehingga laju inflasi bisa tercatat dibawah lima persen.

Pemerintah menetapkan asumsi laju inflasi dalam APBN-Perubahan 2012 sebesar 6,8 persen, dengan perkiraan terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Sementara Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen yang dinilai masih konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah dan terkendali di kisaran 3,5-5,5 persen pada 2012-2013. (S034/A026)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga