Jakarta (ANTARA News) - Hominid, keluarga taksonomi kera berbadan tegak asal Afrika memiliki pola makan yang berbeda dengan manusia purba lainnya sejak dua juta tahun lalu. Hal itu adalah hasil penelitian tim Max Planck Institute of Evolutionary Anthropology dan University of Colorado Boulder.

"Temuan penelitian ini penting karena pola makan merupakan aspek mendasar hewan yang juga mendorong perilaku dan ceruk ekologi," kata Anthropolog University of Colorado Boulder, Paul Sandberg, dalam situs resmi kampus itu.

Sandberg mengatakan hewan dipaksa untuk beralih atau menyesuaikan kondisi di sekitarnya ketika lingkungan berubah dari waktu ke waktu akibat perubahan iklim.

Penelitian Sandberg itu mengungkap Australopithecus sediba, hominid pendek-kurus yang tinggal di Afrika Selatan, makan makanan yang lebih keras seperti pepohonan, semak-semak, dan buah-buahan dibanding hominid lain.

Sementara, nenek moyang manusia lain yang juga berasal dari Afrika, termasuk Paranthropus boisei, lebih memilih makanan lain seperti rerumputan.

Para peneliti mengetahui pola diet hominid Afrika dari metode pemindaian dengan lazer pada gigi fosil. Laser mampu mengungkap petunjuk karbon dari enamel gigi dan memungkinkan peneliti mendeteksi secara tepat tipe tanaman yang dikonsumsi dan lingkungan tinggal hominid.

Dari uji ilmiah mereka, peneliti juga menyimpulkan kulit kayu dan makanan non-remahan menjadi bagian dari diet hominid Afrika.

Peneliti dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Amanda Henry, mengatakan aspek unik proyek penelitian itu adalah analisis mikroskopik, yaitu partikel serat tanaman yang terjebak dan menjadi fosil di sela-sela gigi hominid.

(I026)