Bojonegoro (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Jatim, mewaspadai ancaman kekeringan yang terjadi di daerah setempat.

Kasi Kesiapsiagaan BPBD Bojonegoro Sutardjo mengatakan kekeringan yang mengakibatkan warga kesulitan air bersih itu tidak separah tahun lalu.

Ia menjelaskan, sesuai prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMK) Karangploso, Malang, pada kemarau ini masuk kemarau basah.

Dengan kondisi itu, lanjutnya, kemarau ini kemungkinan masih turun hujan, sehingga tidak mengakibatkan kekeringan yang parah sebagaimana kemarau tahun lalu.

Meski demikian, ia mengimbau, jajaran desa dan kecamatan, secepatnya melapor kalau menjumpai ada warganya yang mengalami kesulitan air bersih.

Ia menjelaskan, penanganan kesulitan air bersih yang dialami warga, dilakukan bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat dan Provinsi Jatim.

Data di BPBD Bojonegoro, kemarau tahun lalu, warga yang mengalami kesulitan air bersih sebanyak 18.473 jiwa, yang tersebar di 17 kecamatan.

Upaya mengatasi kekeringan, lanjutnya, juga dilakukan dengan membangun 56 embung dengan kapasitas berkisar 27.000 meter kubik hingga 275.000 meter kubik, di sejumlah kecamatan yang daerahnya mengalami kekeringan.

Selain itu, lanjutnya, pemkab juga membangun 105 sumur resapan, yang masing-masing sumur memiliki diameter 1 meter, sedalam 4 meter.

"Tujuan pembangunan embung dan sumur resapan, untuk menahan air hujan," katanya, menambahkan.

Ia mengatakan, di sejumlah daerah yang warganya biasa mengalami kesulitan air bersih, juga ditempatkan 41 tandon air yang kapasitasnya 2.000 liter per tandon air, di antaranya di Kecamatan Bubulan, Sugihwaras, Temayang, Kepohbaru, Kedungadem, Ngasem dan Kasiman.
(SAS/A023)