Jumat, 31 Oktober 2014

Pop Art khas Indonesia karya Wedha

| 7.276 Views
id wedha abdul rasyid, pop culture, pop art, wedha's pop art portrait
Pop Art khas Indonesia karya Wedha
Potret gigantis karya Wedha Abdul Rasyid yang dipamerkan dalam rangkaian Jakarta Biennale 2011 di Taman Ayodya, Jakarta. (ANTARA/Teresia May)
Gaya saya itu 'memperkosa' seni, yang hobinya gambar, kalau bikin lengkung nggak boleh, itu kan namanya 'memperkosa.'
Jakarta (ANTARA News) - Garis lengkung dan warna kulit manusia adalah hal yang tidak lazim pada gaya ilustrasi pop art ala Wedha Abdul Rasyid (61), ilustrator novel "Lupus."

Aliran teknik ilustrasi yang disebut Wedha's Pop Art Portrait (WPAP) itu sudah dipatenkan oleh ilustrator di balik karakter fiksi remaja "Lupus" itu.

"Memang saya pengen itu khusus dan khas. Khas gaya saya tanpa lengkung. Kalau dibebasin ya jadinya seperti gambar yang kita lihat seperti biasa dimana-mana," kata Wedha ketika ditemui di sela Popcon Asia di Jakarta Convention Center.

"Gaya saya itu 'memperkosa' seni, yang hobinya gambar, kalau bikin lengkung nggak boleh, itu kan namanya 'memperkosa'," tambahnya. 

Karya Wedha di WPAP berasal dari foto orang-orang terkenal. Potret itu digambar ulang, dibagi menjadi kotak-kotak, simetris dan asimetris, lalu diwarnai ulang.

Gaya yang sebelumnya bernama Foto Marak Berkotak (FMB) itu mulai digeluti Wedha sejak 1991.

Lelaki kelahiran tahun 1951 itu sempat berhenti membuat gaya FMB selama sepuluh tahun, untuk sekaligus meyakinkan diri bahwa gaya ini orisinal milik dirinya.

"Ternyata sepuluh tahun saya menunggu, tidak ada yang karyanya seperti saya," ujar Wedha yang membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk membuat satu karya WPAP.


WPAP Community

Wedha ingin memperkenalkan WPAP, gaya khas Indonesia, pada dunia.

"Untuk membuat itu sampai ke pentas dunia butuh macam-macam, waktu dan effort. Saya sudah tua, jadi ilmunya disebar saja. Minimal kalau saya sudah expired ada yang nerusin," kata Wedha pada Antaranews.

Itu pula alasan dia membentuk WPAP Community, wadah bagi orang-orang yang ingin menguasai cara membuat pop art seperti karya Wedha.

Kini komunitas WPAP sudah punya 7.000 anggota resmi dari seluruh Indonesia. Bahkan, mulai ada anggota dari luar negeri.

"Ada dari Romania, dia mengaku kalau itu gaya Indonesia," tambah Wedha.


Ikuti tren

Wedha, yang mengakui punya jiwa dagang, mempelajari pasar untuk membuat karya yang bisa diterima masyarakat.

Dia memadupadankan WPAP dengan tren yang sedang berlaku, termasuk gaya komik bikinan perusahaan komik Amerika Serikat, Marvel.

"WPAP juga ikut 'Marvel-Marvelan', misalnya 'Avengers', tapi gaya tetap WPAP. Makanya Hulk warna-warni ya cuma ada di sini," pungkas Wedha diiringi tawa berderai.

(nan)

Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca