Pekanbaru (ANTARA News) - Indonesia perlu mengubah pendekatan pembangunan di lahan gambut agar disesuaikan dengan konsep ekonomi hijau demi mempertahankan perannya yang besar dalam mencegah emisi karbon dan terjadinya perubahan iklim.

"Stok karbon di lahan gambut sangat besar, menyedihkan sekali kalau lahan gambut kita lenyap," kata pakar gambut dari Universitas Riau Haris Gunawan pada Seminar Nasional "Dari Rio untuk Riau" yang diselenggarakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), di Pekanbaru, Kamis.

Dikatakannya, pemanfaatan lahan gambut bagi perkebunan kelapa sawit yang di Riau diperkirakan mencapai 500 ribu ha harus mulai mempertimbangkan sistem tata air dengan memperbaiki kanalisasinya.

"Perkebunan sawit harus ketat terhadap stok air dimana tinggi muka air di lahan gambutnya harus lebih dari 50 cm. Jadi kanalisasinya harus diperbaiki dengan banyak membangun kanal air untuk mengatur muka air," katanya

Menurut dia, lahan gambut yang rusak tak bisa lagi diperbaiki dengan teknologi apapun, karena itu lahan gambut yang dimanfaatkan menjadi kebun sawit jangan sampai mengubah karakteristiknya.

Ia menyayangkan masyarakat justru menginginkan lahan gambut segera habis agar mendapatkan tanah yang bagus untuk ditanami.

Hasil studi di blok Bukit Batu, salah satu dari lima blok hutan rawa gambut Riau yang tersisa, menunjukkan stok karbon hutan Riau rata-rata 82 juta ton per ha dan cadangan karbon bawah tanah ditaksir 4.970 juta ton per ha.

"Kedalaman gambut Riau ditaksir rata-rata 7,5 meter, tergolong gambut sangat dalam. Tapi ada bukti bahwa lahan gambut di beberapa kabupaten Riau menyusutkan kedalamannya karena kerusakan dan kebakaran," katanya.

Selain kelapa sawit, Riau juga memiliki hutan tanaman industri berupa akasia untuk industri bubur kertas, yang separuhnya memanfaatkan lahan gambut, ujarnya.

Pada 1985 provinsi Riau tercatat sebagai provinsi yang memiliki hutan alam paling luas dengan cakupan 6,9 juta ha atau 28 persen dari total luas hutan alam Sumatera, pada 2007 berkurang drastis menjadi tinggal 4,3 juta ha.
(D009)