Jumat, 25 Juli 2014

Dua desa Lampung jadi pusat penelitian perubahan iklim

Kamis, 28 Juni 2012 22:45 WIB | 7.967 Views
Bandarlampung (ANTARA News) - Universitas Lampung (Unila) menjadikan Desa Gebang di Kabupaten Pesawaran, dan Desa Sedayu, Kabupaten Tanggamus, pusat penelitian perubahan iklim karena kedua wilayah itu memiliki potensi bencana.

"Dalam hasil kajian kerentanan, kapasitas dan risiko bencana yang dilakukan di dua desa itu, sering terjadi banjir dan longsor akibat perubahan iklim," kata ahli Klimatologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Dr. Tumiar Katarina Manik, di Bandarlampung, Kamis.

Dua desa itu, menurut dia, merupakan wilayah pesisir dan pegunungan sebagai salah satu contoh daerah yang mendapat dampak dari perubahan iklim.

"Alasan lain kami memilih daerah itu, karena tidak banyak LSM melakukan pendampingan di sana," ujarnya.

Hasil penelitian, menurut dia, mengungkapkan bahwa desa Gebang memiliki potensi rawan bencana yang lebih rendag (0,573) dibandingkan desa Sedayu (0,755).

Tingkat kerusakan alam yang terjadi di Desa Gebang didominasi oleh kerusakan ekosistem pantai, sedangkan di Desa Sedayu tidak ada kerusakan parah akibat bencana yang dihasilkan akibat perubahan iklim.

"Sesuai dengan keadaan alamnya, untuk Desa Gebang, bencana yang terjadi mungkin disebabkan oleh banjir dan kenaikan permukaan air laut, sedangkan Desa Sedayu memiliki ancaman banjir dan longsor," katanya.

Dia menuturkan, meskipun kedua daerah itu rawan banjir, masyarakat dan pemerintah di Desa Gebang memiliki kapasitas dalam menghadapi kemungkinan bencana sehingga secara sosial ekonomi Desa Gebang memiliki kapasitas lebih tinggi 0,552 dibandingkan Desa Sedayu 0,342.

"Hal itu diperkuat dengan jauh lebih tertatanya pemerintahan desa di Desa Gebang dibandingkan Desa Sedayu," ujarnya.

Penelitian tersebut, tambah dia, merupakan program kerja sama antara Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi) Cabang Lampung dengan Mercy Corp.

Dalam pelaksanaan kajian tersebut, kata dia, melibatkan unsur pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan Unila. Kajian itu telah usai beberapa waktu lalu yang dilakukan di dua lokasi proyek rintisan.

Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2006 menyebutkan di Indonesia pada periode 2003--2005 telah terjadi 1.429 kejadian bencana dan diperkirakan 53,3 persen terkait dengan fenomena hidro-meteorologi.

Banjir adalah bencana yang paling sering terjadi 34 persen diikuti longsor 16 persen. Pemanasan global akan menimbulkan kekeringan dan curah hujan ekstrim.
(T.ANT-316/D007)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga