Senin, 20 Oktober 2014

Beli produk indonesia

| 3.026 Views
id produk dalam negeri, cegah phk, pasar dalam negeri
Beli produk indonesia
Salah satu contoh produksi dalam negeri adalah kursi kerja yang berkualitas internasional dengan harga terjangkau. Kursi sesuai foto inilah yang dipakai Badan Anggaran DPR. (FOTO ANTARA/M Agung Rajasa)
... belanja kebutuhan sehari-hari dengan membeli produk Indonesia...
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, mengimbau masyarakat membeli produk dalam negeri untuk menekan kemungkinan pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat perluasan dampak krisis utang di Uni Eropa.

"Perkuat pasar dalam negeri, beli produk Indonesia, supaya konsumsi domestik berkesinambungan. Itu senjata yang kuat menghadapi gonjang-ganjing dari luar," katanya pada pertemuan dengan sejumlah redaktur, di Jakarta, Jumat.

Tahun lalu, kata dia, nilai ekspor nasional mencapai 203 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut sekitar 65 persen berasal dari komoditas primer dan sisanya berasal dari non-komoditas. Oleh karena itu, lanjut Gita, tren menurunnya harga komoditas saat ini akan sangat mempengaruhi ekspor nasional. 

Ia mengatakan sejauh ini daya beli masyarakat Indonesia masih cukup kuat, dengan tingkat simpanan mencapai rata-rata 30 persen. Masyarakat, kata dia, bisa menolong pemerintah mengatasi dampak krisis dengan sehingga kinerja produksi tetap stabil di dalam negeri. 

"Caranya, belanja kebutuhan sehari-hari dengan membeli produk Indonesia," katanya.

Pemerintah sangat peka terhadap kemungkinan PHK dari industri di dalam negeri, akibat dampak krisis di Eropa. Oleh karena itu, kendati ada penurunan aktivitas ekonomi, pemerintah akan berusaha tidak terjadi PHK.

Ia juga mengungkapkan pemerintah akan menggenjot kegiatan investasi di dalam negeri untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli, di samping mengantisipasi pemulihan ekonomi Uni Eropa dan Amerika Serikat yang selama ini menjadi tujuan ekspor nasional.

"Sudah banyak investasi yang masuk," katanya. Menurut dia, investasi yang masuk tersebut baru akan mulai beroperasi secara komersial enam sampai 24 bulan ke depan, sehingga bisa mengantisipasi melonjaknya permintaan seiring dengan pemulihan ekonomi dunia.

Gita mengakui ekspor tahun ini kemungkinan tidak akan mengalami pertumbuhan akibat dampak krisis utang di Uni Eropa dan perlambatan ekonomi di Amerika Serikat. "Nilai ekspor tahun ini mencapai tahun lalu saja sudah bagus," ujarnya.

(R016) 

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga