Jumat, 31 Oktober 2014

Rusia di mata seorang diplomat Indonesia

| 7.599 Views
id jauhari oratmangun, rusia, dubes rusia
Jakarta (ANTARA News) - Cerita tentang Rusia bukan hanya soal komunis, diktator jahat, agen KGB, atau mafia belaka. Tapi juga tentang vodka, bunga, cinta. Dan semua itu indah!

Tidak percaya? Bacalah buku `Segenggam Cinta dari Moskwa` karya diplomat Indonesia di Rusia M.Aji Surya yang baru saja diterbitkan penerbit buku Kompas. Buku setebal 248 halaman itu memotret Rusia melalui mata seorang diplomat Indonesia yang ahli memintal cerita, romantik, jenaka dan "rada-rada narsis".

Setelah era `perestroika dan glasnost`, 20-an tahun silam, Rusia menjelma dari negeri yang tertutup, dingin, dan kaku, menjadi sebuah negara terbuka, ramah, dan penuh warna. Rusia baru yang mempesona inilah yang diceritakan Aji Surya lewat buku kelima yang ditulisnya tentang negeri Beruang Kutub ini.

"Percayalah, Rusia masa kini bukan Rusia yang sering kita lihat di film-film Hollywood. Buktikan sendiri sesampai di Moskwa," kata Aji kepada penulis yang pekan depan akan berangkat ke Moskwa untuk mengikuti World Media Summit bersama Dirut Perum LKBN Antara Dr.Ahmad Mukhlis Yusuf.

Sebelumnya, diplomat yang pernah jadi wartawan ini, selalu memprovokasi penulis dengan mengirim eksotisme Rusia melalui gambar-gambar indah tentang Moskwa, seni budaya, dan wanita-wanitanya yang cantik dan sexy. Ia berpesan kepada semua pelancong agar jangan pernah mati sebelum menikmati keindahan dan eksotisme Rusia.

Aji Surya tidak mengada-ada. Sejak kedatangannya di Moskwa pertengahan 2008, gemerlap Rusia sangat menarik perhatiannya. Padahal, sebelumnya, ia pernah bertugas di kota Bonn, ibukota Jerman (sebelum Jerman bersatu), yang bersejarah dan di Paris, Perancis, yang flamboyan penuh glamour.

Moskwa, kota di ujung dunia, menurut Aji, sangat berbeda. Beda banget.

Di Rusia, katanya, terdapat aneka warna yang begitu mudah ditemui dalam hiruk-pikuk masyarakatnya yang sedang beranjak menuju titik kulminasi. Rusia masa kini adalah Rusia yang sedang menggeliat dan berubah, jungkir balik nyaris 180 derajat. Rusia yang bergerak dari sosialis-komunis menjadi kapitalis demokratis.

"Sungguh, warna-warni itu nyaris susah ditemui di tempat lain dan tidak ada habisnya. Kadang terbetik, benarkah saya ini sedang hidup di sebuah planet lain?", katanya yang meskipun sudah bertahun-tahun bertugas di KBRI Moskwa namun tetap belum hattam sepenuhnya memahami Rusia.

Rusia adalah sebuah bangsa besar yang suka berzigzag ria dari waktu ke waktu. Jatuh bangun tanpa lelah. Menuju sebuah kematangan yang bentuk dan warnanya belum terperikan. Rusia kini sedang sibuk mencari arah `kiblat` baru. Apakah Rusia akan menuju demokratisasi yang ujung-ujungnya westernisasi? Inilah dilemanya.



Dihujani produk asing

Dalam kurun waktu pascaperestroika dan glasnost yang digulirkan Michael Gorbachev, kini hampir semua lini ekonomi Rusia dihujani oleh produk asing. Jika tahun 2008 masih banyak ditemui televisi buatan Rusia dijual di pasar, maka sekarang ini sulit mencarinya. Barang-barang elektronik yang membanjiri pasar Rusia adalah produk asing dari Amerika Serikat, Jepang, Korea dan China.

Di jalanan kota-kota besar Rusia, mobil-mobil masa komunis buatan lokal seperti Volga dan Lada nyaris tersingkir. Masyarakat Rusia kini lebih suka naik Mercedes Benz, BMW, Honda dan KIA yang tampak lebih bagus dan sporty. Di tengah kemacetan lalulintas kota Moskwa yang akut seperti Jakarta, tidak sedikit rakyat yang `tajir` membeli mobil Limousine buatan Amerika Serikat yang panjangnya `minta ampun`.

Gandrung dengan produk buatan luar negeri kini menjadi kecenderungan dari masyarakat Rusia. Semua barang kebutuhan untuk gampangnya tinggal impor, impor, dan impor. Sebuah negara mantan adidaya yang malang melintang menguasai teknologi ruang angkasa dan persenjataan ternyata kini tidak lagi memproduksi barang kebutuhan warganya walaupun itu sekedar handphone dan tali sepatu!

Itulah kegalauan Rusia sekarang ini. `Quo vadis domineee`? Mau dibawa kemana Rusia ke depan?

Mendapatkan arah kiblat yang benar, menurut pandangan Aji Surya, tidaklah semudah membeli singkong goreng. Apalagi mencari `kiblat` sebuah bangsa di tengah percaturan dunia yang kompleks. Perlu keberanian mengambil sikap dengan penuh perhitungan.



Perubahan besar

Perestroika dan glasnost adalah dua kata yang mewakili sebuah perubahan besar, dari dunia kelam menjadi dunia terang benderang. Yang terbetik di alam pikiran orang Indonesia semacam Aji Surya adalah masa lalu Rusia yang penuh dengan represi, ketakutan, kediktatoran, dan kemiskinan tanpa ujung. Padahal, Rusia kini sudah menggeliat dan berubah.

Belum lagi film-film Hollywood yang mencitrakan negatif Rusia sebagai sarang KGB, mafia, atau pendukung teroris. Orang-orang Rusia dipersonasikan sebagai pedagang kematian dengan nama-nama Kalesnhnikov (senjata serbu otomatis AK-47), Molotov (bom dan bahan peledak), atau Peter Kropotkin (seorang anarkis).

Budaya kekerasan dialamatkan ke akar sosial negeri itu seperti tercermin dalam permainan Russian Roullete, di mana pistol yang hanya diisi satu peluru, magasinnya diputar, lalu ditembakkan ke kepala orang. Jika beruntung, peluru tidak melesat. Jika apes, kepala yang memuncrat.

Sebelum komunisme meraja, sejarah besar Rusia yang agung dan beradab seolah terlupakan. Bahkan perkembangan pascakomunisme, banyak yang tidak menyimak. Akibatnya, seperti kata Aji Surya, Rusia di mata dunia tetaplah negeri komunis, bengis dan menakutkan. Seolah-olah mafia Rusia merajalela ke seantero dunia, jalan-jalan dan kota-kota di negeri itu aman, dan orang Rusia masih dingin dan kaku seperti bongkahan salju yang turun di Gorky Park.

"Apakah ini merupakan kegagalan PR pemerintah Rusia ataukah karena keengganan kita membaca dan mengubah stigma? Entahlah," Aji Surya enggan tuntas memberikan jawaban.

Bukan apa-apa, ia ingin pembaca menemukan jawaban di buku yang ditulisnya. Segenggam Cinta dari Moskwa adalah kumpulan perjalanan pengembaraan lelaki Yogya lulusan Pondok Pesantren Modern Gontor itu selama empat tahun di negeri beruang putih (dulu beruang merah).

Buku ini menceritakan metamorfosis Rusia yang sosialis komunis yang menjelma menjadi sebuah negeri unik, cantik, dan eksotis. Ditulis dengan rasa cinta (di beberapa bagian malah sedikit erotik) yang menghangatkan kehidupan anak manusia.

Selamat datang di Rusia dan nikmati segenggam cinta dari Moskwa di buku ini.

(A017/J003)

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga