Rabu, 30 Juli 2014

Pengamat: tinju butuh bapak angkat

Jumat, 29 Juni 2012 18:47 WIB | 6.351 Views
Pengamat: tinju butuh bapak angkat
Olahraga tinju perlu bapak angkat untuk dapat tampil di ajang bergengsi seperti Olimpiade dan Asian Games. ANTARA/Puspa Perwitasari)
Jakarta (ANTARA News) - Pengamat yang juga mantan petinju nasional La Paene Masara mengatakan, cabang tinju membutuhkan bapak angkat sehingga bisa mengembalikan kejayaan tinju Indonesia di ajang internasional bergengsi seperti Olimpiade dan Asian Games.

"Ketika menyaksikan Indonesia harus kembali tampil di Olimpiade seperti sekarang ini, kita sangat prihatin kalau ternyata cabang tinju tidak bisa mengikutsertakan atletnya. Hal ini tak lepas dari proses pembinaan yang masih bergantung pada masalah klasik yaitu pendanaan," ujar La Paene kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Sejalan dengan itu La Paene yang pernah mencapai perempatfinal pada Olimpiade Atlanta 1996 mengatakan, tinju Indonesia membutuhkan bapak angkat untuk menjamin berjalannya sistem pembinaan dan atlet mendapatkan kesempatan luas untuk berlaga pada event-event internasional.

Dikatakan dia, pada ajang bergengsi Olimpiade pada masa-masa sebelumnya Indonesia selalu berhasil meloloskan cabang tinju ke Olimpiade dimulai sejak Olimpiade Barcelona 1992 yang meloloskan dua orang yakni Albert Papilaya dan Hendrik Simangunsong.

Kemudian saat Olimpiade Atlanta 1996, Indonesia berhasil meloloskan lima petinju yakni La Paene Masara, Hermensen Ballo, Hendrik Simangunsong, Nemo Bahari dan Pino Bahari meski akhirnya Pino gagal tampil karena cedera.

Pada Olimpiade Sydney tahun 2000 pun La Paene kembali lolos kualifikasi di kelas 48 kilogram dan Hermensen Ballo di kelas 51 kilogram.

"Saat Olimpiade di Athena Yunani pada tahun 2000 kita memang sempat gagal meloloskan petinju, tetapi pada Olimpiade berikutnya di Beijing (2008) kita kembali tampil meski melalui satu jatah "wild card" Boniek Saweho," ujarnya.

La Paene melihat masalah mendasar yang dialami petinju Indonesia untuk berkiprah lebih tinggi seperti di ajang Olimpiade karena minim pengalaman bertanding internasional sehingga kesulitan mengukur kemampuan diri sendiri maupun peta kekuatan lawan.

Menurutnya, ketika PB Pertina masih memiliki bapak angkat "Gajah Tunggal", Pertina memiliki tim nasional yang bisa dikirimkan ke event-event internasional setidaknya empat kali dalam setahun.

"Dengan adanya Timnas dan bapak angkat, saya kira tinju Indonesia akan bisa bangkit karena selalu ada kesempatan bertanding di luar negeri, minimal empat kali dalam setahun. Dengan jam terbang yang cukup, mereka juga bisa melihat peta kekuatan lawan karena petinju negara lain yang tampil di Olimpiade biasanya tampil pula dalam kejuaraan-kejuaraan internasional sebelumnya," demikian La Paene Masara.

(ANT)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga