Sabtu, 26 Juli 2014

Tergelincir dalam sintaksis

Jumat, 29 Juni 2012 19:15 WIB | 7.622 Views
Jakarta (ANTARA News) - Atlet ski es yang andal terbiasa bermanuver dalam kelokan sulit dan berbahaya. Karena andal, sang atlet meluncur dengan aman dan gemulai. Namun sehandal apapun, sesekali dia pernah tergelincir dalam aksinya.

Ibarat kata pepatah: sepadai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga.

Begitu juga pengalaman wartawan atau mereka yang bergerak di dunia olah kata. Mereka sesekali tergelincir dalam sintaksis atau tata kata.

Di halaman 31, pada berita bertajuk "UEFA Melawan Rasialisme" edisi 28 Juni 2012, sebuah harian terkemuka Ibu Kota menulis: "Bukan hanya Spanyol, dalam waktu bersamaan UEFA juga akan menjatuhkan sanksi terhadap Federasi Sepak Bola Rusia (RFS) atas perilaku pendukungnya yang juga terkait pelanggaran aturan terhadap unsur rasialisme."

Kalimat majemuk di atas mengusung makna yang tidak realistis.

Dalam formulasi di atas, makna yang dikandung adalah: Spanyol juga menjatuhkan sanksi terhadap RFS. Makna ini bertentangan dengan isi berita yang mengabarkan bahwa Spanyol akan dijatuhi sanksi oleh UEFA karena perlakuan rasialis yang dilakukan pendukung tim Spanyol.

Jadi yang dihukum UEFA adalah Spanyol dan RFS.

Penulis kalimat majemuk di atas bisa diibaratkan sedang tergelincir tatkala menata kata-kata dalam bentuk kalimat majemuk.

Pembetulan atas kesalahan sintaksis itu adalah sebagai berikut: "Bukan hanya Spanyol, Federasi Sepak Bola Rusia (RFS) pun dalam waktu yang bersamaan dijatuhi sanksi oleh UEFA atas perilaku pendukungnya yang juga terkait pelanggaran aturan terhadap unsur rasialisme."

Mulai dari subjek

Kesalahan menyusun kalimat majemuk dengan mendahulukan anak kalimat juga sering terjadi ketika penulis melesapkan subjek pada anak kalimat.

Sebuah buku retorika dalam bahasa Inggris mengutip contoh terkenal ini: "Ketika berjalan ke arah barat, matahari menyilaukan mata saya."

Maksud penulis tentu hendak mengatakan bahwa "Ketika saya berjalan ke arah barat, matahari menyilaukan mata saya."

Pelesapan subjek "saya" membuat kalimat itu menjadi tak berterima sebab, dalam rumusan itu, yang berjalan ke arah barat bukanlah saya, melainkan matahari.

Kesalahan yang tak disadari sang penulis mendorong para instruktur penulisan retorika untuk menganjurkan pemula menulis dalam bentuk lempang, artinya: mulailah dengan subjek atau induk kalimat.

Anjuran semacam ini tentu menafikan pentingnya menyampaikan ujaran atau kalimat sesuai dengan tema utamanya. Dengan kata lain: kalimat tematik tak bisa digantikan dengan rumusan lain yang berisiko mengabaikan tema utama kalimat yang mau ditonjolkan sang penulis.

Kalau demikian halnya, bukan penghindaran kalimat majemuk inversi solusinya, tapi kehati-hatian menata kata dalam bentuk kalimat majemuk inversi.

Pramoedia juga tergelincir

Wartawan yang menulis dalam tekanan waktu sering tergelincir dalam penyusunan kalimat majemuk yang mendahulukan anak kalimat itu.

Harus diakui, hadirnya kalimat majemuk inversi dalam sebuah berita, analisis, wacana atau risalah dapat memperkuat elemen estetika tulisan.

Kalimat semacam ini membangun variasi dalam tubuh tulisan.

Jika seluruh tubuh tulisan hanya berupa kumpulan kalimat sederhana berstruktur subjek-predikat objek, alangkah monotonnya. Sama membosankannya dengan pemandangan sepanjang perjalanan dari Bandar Udara Cangi menuju pusat kota Singapura, yang didominasi bangunan flat miskin ornamen.

Seperti atlet ski yang suatu saat tergeleincir dalam aksinya, penulis beken (mendiang) Pramoedia Ananta Toer juga pernah tergelincir.

Simak kalimatnya dalam kisah "Jalan Raya Pos, Jalan Daendels" berikut ini: "Sejak dapat dipergunakan pada 1809 telah menjadi instrastruktur penting, dan untuk selamanya."

Apa yang menjadi infrastruktur penting? Pembaca tentu dapat menjawab pertanyaan itu karena tema utama kisah setebal 141 halaman itu adalah jalan Daendels, sepanjang Anyer-Panarukan.

Tapi sebagai sebuah konstruksi sintaksis, kalimat itu cacat karena tak bersubjek. Pelesapan subjek dalam kalimat di atas haram hukumnya.

Karena ketidaktahuan

Bahasa Indonesia menenggang pelesapan subjek tatkala subjek itu berposisi di anak kalimat.

Jika subjek itu mesti hadir di kalimat induk, waspadalah! Jangan coba-coba melesapkannya.

Konstruksi berikut ini masih ditenggang: "Jika mahir ilmu matematika, dia bertekad melamar kerja sebagai dosen di fakultas ilmu pasti dan alam di universitas di kota tempat kelahirannya."

Sebaliknya, bahasa Indonesia tak membolehkan pelesapan subjek di induk kalimat, meski anak kalimatnya memuat subjek itu.

Berdasar analogi kalimat di atas, inilah struktur terlarang karena pelesapan subjek di induk kalimat: "Jika dia mahir ilmu matematika, bertekad melamar kerja sebagai dosen di fakultas ilmu pasti dan alam di universitas di kota tempat kelahirannya."

Perkara tergelincir dalam sintaksis sebetulnya bukan sekali dua kali dialami kaum jurnalis dan redaktur.

Jika dirunut apa penyebabnya, salah satunya mungkin keengganan di kalangan mereka menengok kitab panduan, salah satunya Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Jika ini soalnya, pantaslah untuk mengharuskan mereka membaca kitab yang tidak sulit dicari di toko-toko buku itu.

Imperatif membaca kitab panduan tak bisa ditawar lagi. Sebab jangan sampai dunia jurnalisme negeri ini mengidap tragedi yang digaungkan jiwa-jiwa agung ribuan tahun silam: kekeliruan itu terjadi karena ketidaktahuan!

(M020/Z002) 

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga