Purwakarta (ANTARA News) - Perum Jasa Tirta II yang mengelola Bendungan Jatiluhur sampai sekarang masih menemukan ribuan pipa liar menyedot air yang disalurkan dari Jatiluhur ke Jakarta sehingga merugikan warga Daerah Khusus Ibu Kota.

"Ribuan pipa liar masih menyedot air yang disalurkan dari Bendungan Jatiluhur ke Jakarta," kata Direktur Pengelolaan Air Perum Jasa Tirta II, Herman Idrus, kepada wartawan di Purwakarta, Jumat malam.

PT Palyja atau PT PAM Lyonnaise yang merupakan mitra PAM Jaya mengajak sejumlah wartawan untuk meninjau Bendungan Jatiluhur yang nama resminya adalah Bandangan Ir Juanda untuk melihat secara langsung pengelolaan air Jatiluhur yang dikirim ke Jakarta.

Herman Idrus menyatakan, BUMN tersebut sampai kini masih terus berusaha mengatasi pencurian air tersebut. Namun, pihaknya masih menemui kesulitan untuk mengatasi persoalan ini.

Ia menyebutkan, banyak warga yang memiliki tambak ikan yang mengambil air dari saluran Jatiluhur ke ibu kota Jakarta.

Bahkan, lanjutnya, ada warga yang memanfaatkan beberapa LSM yang tidak jelas status hukumnya untuk membela kegiatan yang ilegal tersebut.

Herman menyatakan pula, jalur saluran air dari Jatiluhur ke Jakarta itu sepanjang 70 kilometer, dengan kapasitas atau daya tampung bendungan Jatiluhur yang bisa mencapai 25 miliar liter, serta kedalaman air yang dapat mencapai 75 meter.

Ia menjelaskan, karena pemerintah bertekad meningkatkan produksi gabah kering panen sebanyak 10 juta ton per tahun hingga 2014, maka Kementerian Pertanian juga telah menggandeng Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mengamankan peningkatan produksi tersebut.

"Kerja sama Kementerian Pertanian dan TNI tersebut dimulai tahun 2012 ini," katanya.

Herman mengemukakan, para prajurit TNI diminta mengamankan jalur irigasi sehingga penyediaan benih padi.

Pengamanan oleh TNI tersebut, ujar dia, sangat diperlukan untuk menunjang peningkatan produksi pangan seiring dengan makin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia.

(L.A011*M040/Z002)