Rabu, 1 Oktober 2014

Regenerasi tanpa bantuan pemerintah ala industri TI

Minggu, 1 Juli 2012 15:09 WIB | 9.822 Views
Regenerasi tanpa bantuan pemerintah ala industri TI
Ilustrasi Internet (Istimewa)
perusahaan-perusahaan TI di Indonesia itu sangat diminati oleh investor Amerika, Eropa, dan Jepang."
Jakarta (ANTARA News) – Industri digital atau teknologi informatika (TI) tanah air memang masih 'seksi' Perusahaan riset IDC  mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia pada periode yang sama mencapai 44,7 juta orang dan jejaring sosial hingga 43 juta orang dengan tingkat penetrasi internet 18 persen dari total penduduk.

Lembaga riset Business Monitor International memprediksi jumlah pengguna internet di Indonesia akan mencapai 153 juta pada 2014.

Potensi pasar industri digital yang terus tumbuh itu tak ayal menyedot perhatian pemain-pemain baru untuk terjun, termasuk lulusan baru perguruan tinggi (fresh graduate) dan bahkan mahasiswa.

"Dua alasan mengapa bisnis di industri digital begitu menarik, pertama modal yang dibutuhkan sedikit dan potensi pasarnya sangat besar," kata Pemimpin dan Pendiri Agen Periklanan Digital SITTI, Andy Sjarif, dalam Entrepreneur Festival di Jakarta, Sabtu (23/6).

Andy mengatakan siapapun dapat terjun di industri digital yang berbasis internet seperti perdagangan elektronik (e-commerce) dengan modal biaya akses internet dan komputer.

"Hal yang justru masih menjadi kendala adalah pemahaman kepada para pengusaha yang sudah mempunyai produk untuk dijual tapi belum menjamah internet," kata Andy mengacu 52 juta usaha kecil menengah di Indonesia yang sebagian besar belum mempunyai akses toko dalam jaringan (online).

Selain potensi pasar yang meningkat 1.400 persen dalam sembilan tahun terakhir, lanjut Andy, industri digital juga unggul dalam aspek keterukuran menyasar pembeli produk dengan melihat jumlah lalu-lintas, arah datang data, maupun konversi--penyesuaian jenis iklan produk dengan kata kunci yang diketik pengguna internet.

Namun, para pemain baru juga mesti sadar untuk hadapi beragam tantangan manakala terjun ke industri TI. Tantangan yang akan dihadapi seperti persaingan, regulasi, tolok ukur perkembangan bisnis, pemasaran produk, hingga dukungan infrastruktur.

"Saya sepakat bahwa infrastruktur TI perlu diperbaiki, tapi sekarang Indonesia sudah punya potensi pasar yang cukup besar dengan sekitar 50 juta pengguna internet," kata Andy.

Andy pun yakin para pemula bisnis (start-up) TI dapat bersaing dengan pelaku industri TI asing dengan menerapkan empat strategi.

"Ada (pihak) yang mengatakan 'mantra' start-up bisnis itu tiga, observasi, imitasi, dan modifikasi. Menurut saya kurang satu, disruptive--memecah pasar yang dikuasai satu pemain besar," kata Andy.

'Mantra' itu yang tampaknya diaplikasikan Andy dalam proyek inisiatif mempertemukan para pelaku UKM dengan para fasilitator e-commerce melalui alamat situs nurbaya.com.

"Kami dari nurbaya.com berusaha menjembatani mereka yang mempunyai produk untuk dijual dengan anak-anak muda yang paham internet sehingga tercipta ekosistem e-commerce," kata Andy.

Andy menceritakan proyek inisiatifnya memiliki sejumlah sistem yang dibutuhkan bagi perdagangan elektronik seperti pembuatan toko online, promosi, saluran pembayaran dan logistik, hingga akses permodalan.

Project eden
Proyek regenerasi pebisnis baru industri digital serupa juga dilakukan Kepala Operasional Agen Periklanan Digital XM Gravity, Nanda Ivens, bersama 11 rekannya sesama pelaku bisnis industri digital.

"Kami ingin mengangkat keberadaan wirausahawan-wirausahawan di bidang teknologi (tekno-preneur) di Indonesia yang mempunyai potensi besar," kata Nanda mengenai proyek eden.co.id

Nanda mengatakan proyek eden itu dilatarbelakangi ketidakpahaman pebisnis baru atau inovator bisnis digital mengenai proyeksi perkembangan usahanya pada masa mendatang.

Para pemain industri teknologi yang telah mapan, menurut Nanda, ingin membagi pengalaman mereka ketika menghadapi krisis ekonomi 1998 kepada pebisnis baru.

"Bantuan kepada pebisnis pemula tidak selalu berbentuk modal, tapi dukungan bagaimana menjalankan bisnis sehingga menghasilkan uang," kata Nanda.

Keduabelas anggota proyek eden memberikan pengetahuan bisnis berupa pengembangan produk, strategi pemasaran, keuangan, hukum, investasi, selain tentunya penyertaan modal kepada para pebisnis yang lolos seleksi.

"Latar belakang disiplin pendidikan tidak masalah selama kami melihat para inovator itu punya minat yang kuat di industri teknologi," kata Nanda.

Calon-calon pebisnis yang ingin mengikuti proyek eden, menurut Nanda, diwajibkan melampirkan riset ringan tentang potensi pasar (pengguna) dan keberlanjutan bisnis.

Nanda mengatakan tiga bisnis TI pemula sudah lolos seleksi proyek eden dan akan mendapatkan proses bimbingan serta sejumlah fasilitas.

"Kami akan ganti gaji bulanan mereka sesuai gaji dari pekerjaan sebelumnya dan ikut berinvestasi dengan porsi kecil dalam bisnis yang dijalankan," kata Nanda selaku konsultan pengembangan dan pemasaran produk dalam proyek itu.

Proyek regenerasi mandiri
Kedua proyek itu merupakan bentuk kemandirian penuh pelaku TI dalam meregenerasi industrinya di tanah air, tanpa campur tangan pemerintah.

"Seringkali pihak yang terlibat dalam program bersama pemerintah hanyalah kalangan tertentu saja, sisanya hanya diberi dukungan moral," kata Nanda.

Nanda mengatakan pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif telah mempunyai keinginan untuk terlibat dalam industri TI, namun hasilnya belum terlihat.

"Pemerintah Singapura membentuk badan khusus yang terus mendukung industri TI di negara mereka dalam bentuk promosi dan pinjaman modal," kata Nanda.

Senada dengan Nanda, Andy mengajak para pengusaha industri TI untuk mandiri dan tidak mengandalkan pemerintah yang seringkali lambat dalam berkontribusi.

"Padahal perusahaan-perusahaan TI di Indonesia itu sangat diminati oleh investor Amerika, Eropa, dan Jepang karena pertumbuhan industri digital kita lebih besar dibanding India dan lebih terbuka dibanding China," kata Andy.

Pelaku industri digital tanah air, menurut Nanda, sudah cukup dengan dukungan-dukungan moral sementara pemerintah seringkali hanya membuka dan menutup acara dalam sejumlah penyelenggaraan kegiatan bisnis.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika mempunyai sejumlah program peralihan ke teknologi digital dalam berbagai sektor seperti e-education, e-government, maupun penyelenggaraan Indonesia Information dan Communication Technology Award (Inaicta).

Nanda juga menyinggung kurikulum perguruan tinggi yang belum sesuai dengan kebutuhan industri TI yang terus berkembang.

"Apa ada kampus di Indonesia yang mempunyai jurusan atau mata kuliah pemasaran digital atau mata kuliah inovasi digital? Jikalaupun ada kurikulum tentang digital seringkali masuk di jurusan Teknologi Informasi," kata Nanda.

Tentunya masih banyak proyek-proyek regenerasi mandiri serupa nurbaya dan project eden yang mengibarkan semangat kewirausahaan demi eksistensi industri TI dalam negeri.

(I026)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca