Kamis, 28 Agustus 2014

Tiga fakta di balik 4-0-nya Spanyol

Senin, 2 Juli 2012 05:44 WIB | 7.310 Views
Tiga fakta di balik 4-0-nya Spanyol
Cecs Fabregas mengangkat Piala Eropa yang baru saja dimenangi Spanyol setelah menghancurkan Italia 4-0 pada final Piala Eropa 2012 (AFP)
Jakarta (ANTARA News) - Spanyol memang fantastis, tetapi kemenangan semalam mungkin karena kelirunya Italia mengadopsi taktik dan pola bermain.

Cesare Prandelli terlalu ingin meninggalkan agama catenaccio pada sepakbola Italia dengan memainkan sepakbola yang lebih menyerang yang sungguh bukan milik Italia.

Bahayanya ketika melawan tim seagresif dan setelengas Spanyol, maka pola menyerang yang memungkinan banyak ruang permainan terbuka, malah sangat menguntungkan Spanyol. Dan itulah yang terjadi pada partai final Piala Eropa 2012 dini hari tadi.

Grant Wahl, kolumnis Sport Illustrated, mencatat tiga alasan mengapa Italia kalah begitu mudah dan mengapa Spanyol begitu perkasa dalam partai final penuh rekor penuh sejarah dini hari tadi itu.

1. Spanyol adalah tim internasional paling tuntas sepanjang masa

   Apa lagi yang hendak Anda tanyakan? Pada satu malam di musim panas yang penuh kejayaan di Ukraina, Spanyol memperagakan permainan yang spektakuler melawan juara dunia empat kali. Mereka mengobrak-abrik pertahanan Italia dengan kecepatan dan ketepatan. Tidak diragukan lagi bahwa prestasi tim Spanyol kali ini sekelas pencapaian Brazil (1958-62, 1970), Prancis (1998-2000) dan Jerman Barat (1972-74). 
   Dengan menggapai prestasi sebesar itu, Spanyol menjadi negara pertama yang menggondol dua kali Piala Eropa dan juga Juara Dunia dalam waktu bersamaan. 
   Lebih penting lagi, Spanyol memperagakan gaya yang lebih dari yang dilakukannya pada sepanjang turnamen ini, mempertontonkan umpan-umpan cemerlang yang mengawali gol-gol David Silva, Jordi Alba, Fernando Torres dan Juan Mata.
   Pada pembuka gol-gol mereka tadi --pergerakan, imajinasi, keindahan-- akan abadi tercatat dalam sejarah sepakbola, dan untuk itu kita semua mesti berterimakasih telah mendapat kesempatan guna menjadi saksi untuk peragaan itu.

2. Tidak ada penyerang murni Spanyol? Tak masalah

   Selama tiga minggu kita mendengar pertanyaan mengenai formasi 4-6-0 dari pelatih Vicente del Bosque yang nihil striker murni. Faktanya Spanyol memang tak pernah menginginkan Torres yang perannya terkurangi, untuk menjadi starter. 
   Dengan absennya pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah, David Villa, karena cedera, Cesc Fabregas tampil sangat baik mengambil posisi sentral dengan mencetak dua gol selama berlangsungnya turnamen ini dan menciptakan assist yang mengagumkan memanfaatkan kecepatannya untuk kemudian mengawali gol pembuka yang diciptakan David Silva pada partai final tadi malam.
   Ini turnamen untuk para gelandang. Tidak ada pemain pada Piala Eropa 2012 ini yang mencetak gol lebih dari tiga. Dan dengan enam gelandang yang dimainkan Spanyol sepanjang turnamen ini adalah gambaran sempurna dari fakta itu. Sebut saja nama-nama kaya talenta seperti Andres Iniesta, Xavi Hernandez, David Silva, Cesc Fabregas, Xabi Alonso, dan Sergio Busquets. 
   Xavi, khususnya, mendemonstrasikan permainan luar biasa di final tadi, berkombinasi dengan Jordi Alba dan Fernando Torres untuk menciptakan dua gol cantik, sekaligus mempertontonkan penampilan yang lebih bersemangat dan lebih berstamina dibandingkan pada penampilan dia sebelumnya. Tapi sejatinya yang terjadi adalah semua gelandang Spanyol berada pada performa puncaknya dalam final yang memang diperuntukan untuk mereka yang berpengalaman.

3. Pola permainan menyerang Italia menciptakan ruang lowong untuk Spanyol

   Sejak kickoff, Spanyol memainkan pola serangan lebih cepat dibandingkan laga mana pun pada Euro 2012 ini, lebih banyak mengoper secara vertital, agak sedikit horizantal.  Salah satu alasannya adalah karena keinginan Spanyol untuk membungkam siapapun yang mengkritiknya telah bermain membosankan, namun alasan yang sesungguhnya adalah keputusan Italia untuk memainkan sepakbola menyerang.  Para pemain Italia menciptakan peluang-peluang di laga tadi dan mereka tidak mengubah taktik hanya karena takut Spanyol.  Untuk perkara ini pelatih Cesare Prandelli layak mendapatkan penghormatan yang luar biasa. Tapi pola ini membuat sisi lapangan Italia menjadi terbuka sehingga menciptakan ruang yang dieksploitasi Spanyol lewat efisiensi dan kecepatannya yang menakutkan. Ketika Anda menerapkan taktik seperti ini kala melawan Spanyol (seperti dilakukan Prancis atau Portugal di perempatfinal dan semifinal), maka memainkan bola cepat dan vertikal adalah kelewat berisiko.
   Jika ruang dibiarkan terbuka, seperti terjadi pada Italia semalam, maka Spanyol akan menghancurkan Anda. Berkurangnya kekuatan Italia menjadi 10 orang setelah cederanya Thiago Motta (ditambah kelelahan yang diderita tiga pemain pengganti Italia) membuat paruh kedua permainan berjalan menjadi lebih konservatif. (*)

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Top News
Baca Juga