Washington (ANTARA News) - Udara panas yang menyengat menyelimuti sebagian besar bagian timur Amerika Serikat pada hari ketiga berturut-turut Ahad (1/7), setelah badai keras menewaskan 13 orang dan membuat lebih tiga juta orang tak memperoleh listrik.

Kondisi darurat diumumkan di Maryland, Ohio, Virginia, West Virginia dan Washington D.C., pada Sabtu akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh topan yang membawa angin kencang melintasi wilayah 800 kilometer.

Badai tersebut mengamuk saat temperatur mencapai 38 derajat Celsius di beberapa kota besar Amerika selatan, termasuk Atlanta, tempat air keras mencapai angka 41 C, demikian keterangan Accuweather.com.

Lebih dari dua lusin kota besar di seluruh 10 negara bagian menghadapi temperatur tertinggi pada Jumat dan Sabtu, termasuk di Columbia, South Carolina; Knoxville, Tennessee; dan Raleigh, North Carolina.

Gelombang panas berlanjut pada Ahad bagi jutaan orang dari Plains sampai Mid-Atlantic, demikian laporan Reuters --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Senin.

Nashville menghadapi udara paling panas lagi pada Ahad, 40 C, kata petugas meteorologi Brittney Whitehead dari National Weather Service. Rekor sebelumnya untuk hari itu ialah 38,33 derajat Celsius pada 1954.

Dari St. Louis, Missouri, sampai Washington, temperatur diperkirakan mencapai angka tinggi lagi.

"Sangat tidak aman untuk berada di luar rumah bagi orang yang tak bisa bertahan dari kondisi ekstrem ini," kata National Weather Service di dalam satu pernyataan.

Awak pembangkit tenaga listrik berusaha memulihkan layanan ke rumah dan tempat usaha, dan para pejabat di daerah yang sama mengatakan pekerjaan itu dapat berlangsung selama satu pekan.

Fasilitas umum di Ohio, Virginia dan Maryland menggambarkan kerusakan pada jaringan listrik sebagai bencana.

Gubernur Virginia Bob McDonnell mengatakan dalam taklimat tujuh orang telah dikonfirmasi meninggal dengan sebab yang berkaitan dengan udara panas.
(C003/A011)