Mesuji, Lampung (ANTARA News) - Persatuan Petani Moro-Moro Way Serdang (PPMWS) mengajak semua pihak di Kabupaten Mesuji, Lampung, untuk menahan diri dan tidak mengedepankan kekerasan dalam mengatasi permasalahan.

Dalam pernyataan sikap yang disampaikan Sekretaris Jenderal PPMWS, Syahrul Sidin, di Mesuji, Selasa, organisasi petani itu menyayangkan aksi-aksi kekerasan yang terjadi di wilayah Register 45 di Mesuji.

"Aksi kekerasan baik yang dilakukan oleh petani maupun aparat keamanan hanya akan melanggengkan spiral kekerasan di Register 45, " katanya.

PPMWS mengemukakan hal itu menyusul aksi perusakan yang melibatkan para petani dan tim sosialisasi terkait pemasangan spanduk. Insiden yang dipicu masalah hunian warga pada Sabtu (30/6) lalu itu mengakibatkan satu mobil anggota TNI rusak.

Pemerintah Kabupaten setempat telah minta tim terpadu bentukan Kementerian Koordinator Politik Hukum dan HAM segera mengambil langkah tegas bagi warga yang disebut perambah yang tinggal di daerah itu.

"Tim terpadu harus segera ambil langkah tegas pengusiran perambah, kalau dibiarkan terkesan ada asumsi bahwa lahan Register 45 sah dikuasai oleh perambah," kata Bupati Mesuji, Khamamik, saat dikonfirmasi.

Menurut dia, perambah yang ada di kawasan itu mayoritas dari luar Kabupaten Mesuji, seperti Kabupaten Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan bahkan dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan.

"Saya meminta semua warga untuk keluar dari hutan produksi Register 45, mengingat itu hutan milik negara yang harus dikosongkan," katanya.

(B014)