Oleh A.A. Ariwibowo
Suporter tim nasional sepak bola Spanyol melakukan selebrasi kemenangan di air mancur pusat kota Madrid, setelah tim mereka mengalahkan Italia 4-0 di final Piala Eropa 2012 yang dimainkan di Stadion Olympic, Kiev. (AFP PHOTO / Pedro ARMESTRE) ()
Mereka yang mengawinkan pernyataan bahwa sukses Spanyol di laga bola hanya meninabobokan krisis ekonomi di negerinya sama saja menjerumuskan diri dalam ketidaktahuan
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Terberkati
menjadi "2012 Campeones De Europa" bagi La Furia Roja memutus takdir
kekalahan setiap manusia.
Dan Spanyol beroleh kemenangan, mengawinkan
gelar piala dunia 2010 bersama piala Eropa bermodal perkawanan atau
persahabatan.
Bukan sebatas perkawanan berbahan bakar
kebersamaan berbalut "tiki-taka", pasukan Spanyol di bawah komando opa
Vicente Del Bosque menyekat detak jarum jam publik dunia bola dengan
memeragakan operan-operan tepat sasaran menerobos setiap ruang
pertahanan setiap lawan.
Mereka meliuk-meliuk layaknya sang matador
meluputkan diri dari tandukan banteng ketaton. Mengapa justru
perkawanan atau persahabatan?
Jawabannya, silakan mengutip dari sebuah
ungkapan Inggris bahwa siapa yang berkawan dengan serigala maka kelak
mereka akan belajar melolong (who keeps company with the wolf will learn
to howl). Pandai-pandailah memilih teman dan menjemput sahabat.
Belajarlah
senantiasa dari sukses Spanyol meraup gelar, bukan justru
mengait-ngaitkannya dengan krisis ekonomi yang kini sedang mendera
negeri Matador itu. Bukankah lebih baik berbicara soal sukses ketimbang
meniup-niup kegamangan?
Bersahabatlah dengan sukses, berkawanlah dengan
kegembiraan orang lain. Ikutlah bergembira bersama orang yang bergembira. Ikutlah menang bersama dengan mereka yang menang.
Ibaratnya, seseorang akan lebih
memilih lulus dari ujian sekolah meski harus belajar siang malam
ketimbang bertemu dan berjalan bersama dengan sang kekasih.
Timnas
Spanyol telah membawa kegembiraan bagi seluruh masyarakat Spanyol. Tidak
ada alasan untuk menyatakan bahwa kemenangan La Furia Roja merupakan
hiburan di tengah krisis. Mengapa?
Orang yang mengalami rasa sakit
mungkin saja tidak mengalami kenikmatan, tetapi mungkin saja ia dapat
merasakan kebahagiaan. Sama halnya dengan seluruh rakyat Spanyol yang
kini sedang berpesta kemenangan.
Benar, bahwa sektor
perbankan Spanyol kini memerlukan dukungan keuangan lebih dari 100
milyar dolar euro atau 126,91 milyar dolar AS.
Benar juga, bahwa Spanyol
telah menorehkan sejarah sebagai negara yang mampu mendominasi panggung
sepak bola dengan juga memenangi Piala Dunia di Afrika Selatan dua
tahun lalu.
Mereka yang memberi tanda kurung kepada sukses
timnas Spanyol kemudian menghadap-hadapkan dengan krisis ekonomi negeri
itu sama saja mengingkari penegasan dari filosof Yunani Platon bahwa
jiwa setiap manusia adalah kemungkinan yang tidak terbatas.
Warga
Spanyol adalah murid setia Platon. Mereka tidak ambil pusing dengan
kondisi keuangan dan perbankan negerinya yang masuk kategori rentan.
Mereka terus menempa harapan dan menggenjot asa agar tim sepak bolanya
mampu meraih tiga trofi, Piala Dunia 2010, Piala Eropa 2012 dan Piala
Dunia 2014 yang bakal dihelat di Brazil.
"Kami yang
terbaik, dan kami telah membuat sejarah. Sekarang kami bergegas menuju
ke Brazil untuk menang. Ini alasan mengapa kami merayakan kemenangan ini
demikian meraih sama ketika kami menjadi juara dunia 2010 lalu," kata
salah seorang peserta pawai kemenangan, Ivan Rodriguez (33) yang terus
bersorak bersama dengan rekan-rekannya di plaza kota Madrid.
Banyak Rodriguez-rodriguez lain. Bahkan, perdana
Menteri Spanyol Mariano Rajoy, yang juga hadir dalam pertandingan final
Piala Eropa 2012 itu, mengatakan ia akan hadir dalam pesta kemenangan
di Madrid.
Semu? Jelas bukan. Ia hadir dalam pesta kemenangan artinya ia
mau berbela rasa dengan seluruh rakyatnya.
Awalnya,
timnas Spanyol menangguk kritik sebagai tim dengan langgam penguasaan
bola yang membosankan.
Akhirnya, mereka menorehkan prestasi gemilang di
ajang Piala Eropa 2012 dengan memberi "yang terbaik". Mereka telah
berkampanye dengan unjuk prestasi, bukan dengan unjuk kata-kata
pencitraan diri.
"La Furia Roja" menjawab kritik bukan
dengan segudang kata-kata pembelaan diri melainkan menoreh prestasi
dengan menyabet trofi Piala Eropa 2012.
Di awal turnamen, Del Bosque
dikritik sebagai pelatih yang kurang memberi "yang terbaik". Ia dituding
telah menerapkan pola permainan cepat dengan operan-operan akurat yang
cenderung membosankan.
Banyak pihak menyebut penampilan
Spanyol membosankan bahkan tidak memantik inspirasi selama berlaga di
Ukraina dan Polandia. Kritik ini justru memotivasi pasukan Del Bosque
dengan mengandaskan impian Gli Azzurri. Apa rahasianya?
Sebagai
pelatih yang rendah hati, Del Bosque memegang dogma, "Jika saya
mendapatkan apa yang saya inginkan, saya merasa bahagia. Walaupun untuk
mendapatkan keinginan itu saya harus merasakan ketidakbahagiaan terlebih
dahulu."
Punggawa tim Matador membayar kontan harapan Del Bosque.
Mereka tampil demikian haus gol, berlari mencari ruang gerak, menusuk
pertahanan lawan untuk menciptakan peluang-peluang gol, sementara
pasukan Italia demikian kedodoran melapis pergerakan lawannya itu.
Mereka adalah jiwa-jiwa yang dinamis.
Mereka yang
mengawinkan pernyataan bahwa sukses Spanyol di laga bola hanya
meninabobokan krisis ekonomi di negerinya sama saja menjerumuskan diri
dalam ketidaktahuan (ignorantia) mirip-mirip dengan kedunguan binatang,
bukan menampilkan martabat luhur dari rasionalitas manusia (ens
rationale).
Olah bola adalah olah jiwa. Kemenangan di laga bola mengaitkan kemenangan merawat jiwa dan memantik harapan.
Ini
yang persis dilakukan Del Bosque dan dilakoni seluruh pasukan Spanyol
dengan seluruh budi pikiran . Apakah kenyataan ini hendak dinafikan
bahkan diciutkan hanya dengan menunjuk kepada krisis ekonomi Spanyol?
Absurd ah!
Jangan-jangan memang tersembul keinginan mengekor kepada serigala
untuk belajar melolong lantaran menyaksikan orang lain sukses seperti
pesta yang kini sedang digelar di negeri Matador?(A024)
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com