Rabu, 27 Agustus 2014

Sukses timnas Spanyol di tengah krisis ekonomi?

Selasa, 3 Juli 2012 18:49 WIB | 8.874 Views
Sukses timnas Spanyol di tengah krisis ekonomi?
Suporter tim nasional sepak bola Spanyol melakukan selebrasi kemenangan di air mancur pusat kota Madrid, setelah tim mereka mengalahkan Italia 4-0 di final Piala Eropa 2012 yang dimainkan di Stadion Olympic, Kiev. (AFP PHOTO / Pedro ARMESTRE) ()
Jakarta (ANTARA News) - Terberkati menjadi "2012 Campeones De Europa" bagi La Furia Roja memutus takdir kekalahan setiap manusia.

Dan Spanyol beroleh kemenangan, mengawinkan gelar piala dunia 2010 bersama piala Eropa bermodal perkawanan atau persahabatan.

Bukan sebatas perkawanan berbahan bakar kebersamaan berbalut "tiki-taka", pasukan Spanyol di bawah komando opa Vicente Del Bosque menyekat detak jarum jam publik dunia bola dengan memeragakan operan-operan tepat sasaran menerobos setiap ruang pertahanan setiap lawan.

Mereka meliuk-meliuk layaknya sang matador meluputkan diri dari tandukan banteng ketaton. Mengapa justru perkawanan atau persahabatan?

Jawabannya, silakan mengutip dari sebuah ungkapan Inggris bahwa siapa yang berkawan dengan serigala maka kelak mereka akan belajar melolong (who keeps company with the wolf will learn to howl). Pandai-pandailah memilih teman dan menjemput sahabat.

Belajarlah senantiasa dari sukses Spanyol meraup gelar, bukan justru mengait-ngaitkannya dengan krisis ekonomi yang kini sedang mendera negeri Matador itu. Bukankah lebih baik berbicara soal sukses ketimbang meniup-niup kegamangan?

Bersahabatlah dengan sukses, berkawanlah dengan kegembiraan orang lain. Ikutlah bergembira bersama orang yang bergembira. Ikutlah menang bersama dengan mereka yang menang.

Ibaratnya, seseorang akan lebih memilih lulus dari ujian sekolah meski harus belajar siang malam ketimbang bertemu dan berjalan bersama dengan sang kekasih.

Timnas Spanyol telah membawa kegembiraan bagi seluruh masyarakat Spanyol. Tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa kemenangan La Furia Roja merupakan hiburan di tengah krisis. Mengapa?

Orang yang mengalami rasa sakit mungkin saja tidak mengalami kenikmatan, tetapi mungkin saja ia dapat merasakan kebahagiaan. Sama halnya dengan seluruh rakyat Spanyol yang kini sedang berpesta kemenangan.

Benar,  bahwa sektor perbankan Spanyol kini memerlukan dukungan keuangan lebih dari  100 milyar dolar euro atau 126,91 milyar dolar AS.

Benar juga, bahwa Spanyol telah menorehkan sejarah sebagai negara yang mampu mendominasi panggung sepak bola dengan juga memenangi Piala Dunia di Afrika Selatan dua tahun lalu.

Mereka yang memberi tanda kurung kepada sukses timnas Spanyol kemudian menghadap-hadapkan dengan krisis ekonomi negeri itu sama saja mengingkari penegasan dari filosof Yunani Platon bahwa jiwa setiap manusia adalah kemungkinan yang tidak terbatas.

Warga Spanyol adalah murid setia Platon. Mereka tidak ambil pusing dengan kondisi keuangan dan perbankan negerinya yang masuk kategori rentan.

Mereka terus menempa harapan dan menggenjot asa agar tim sepak bolanya mampu meraih tiga trofi, Piala Dunia 2010, Piala Eropa 2012 dan Piala Dunia 2014 yang bakal dihelat di Brazil.

"Kami yang terbaik, dan kami telah membuat sejarah. Sekarang kami bergegas menuju ke Brazil untuk menang. Ini alasan mengapa kami merayakan kemenangan ini demikian meraih sama ketika kami menjadi juara dunia 2010 lalu," kata salah seorang peserta pawai kemenangan, Ivan Rodriguez (33) yang terus bersorak bersama dengan rekan-rekannya di plaza kota Madrid.

Banyak Rodriguez-rodriguez lain. Bahkan, perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy, yang juga hadir dalam pertandingan final Piala Eropa 2012 itu, mengatakan ia akan hadir dalam pesta kemenangan di Madrid.

Semu? Jelas bukan. Ia hadir dalam pesta kemenangan artinya ia mau berbela rasa  dengan seluruh rakyatnya.

Awalnya, timnas Spanyol menangguk kritik sebagai tim dengan langgam penguasaan bola yang membosankan.

Akhirnya, mereka menorehkan prestasi gemilang di ajang Piala Eropa 2012 dengan memberi "yang terbaik". Mereka telah berkampanye dengan unjuk prestasi, bukan dengan unjuk kata-kata pencitraan diri.

"La Furia Roja" menjawab kritik bukan dengan segudang kata-kata pembelaan diri melainkan menoreh prestasi dengan menyabet trofi Piala Eropa 2012.

Di awal turnamen, Del Bosque dikritik sebagai pelatih yang kurang memberi "yang terbaik". Ia dituding telah menerapkan pola permainan cepat dengan operan-operan akurat yang cenderung membosankan.

Banyak pihak menyebut penampilan Spanyol membosankan bahkan tidak memantik inspirasi selama berlaga di Ukraina dan Polandia. Kritik ini justru memotivasi pasukan Del Bosque dengan mengandaskan impian Gli Azzurri. Apa rahasianya?

Sebagai pelatih yang rendah hati, Del Bosque memegang dogma, "Jika saya mendapatkan apa yang saya inginkan, saya merasa bahagia. Walaupun untuk mendapatkan keinginan itu saya harus merasakan ketidakbahagiaan terlebih dahulu."

Punggawa tim Matador membayar kontan harapan Del Bosque. Mereka tampil demikian haus gol, berlari mencari ruang gerak, menusuk pertahanan lawan untuk menciptakan peluang-peluang  gol, sementara pasukan Italia demikian kedodoran melapis pergerakan lawannya itu. Mereka adalah jiwa-jiwa yang dinamis.

Mereka yang mengawinkan pernyataan bahwa sukses Spanyol di laga bola hanya meninabobokan krisis ekonomi di negerinya sama saja menjerumuskan diri dalam ketidaktahuan (ignorantia) mirip-mirip dengan kedunguan binatang, bukan menampilkan martabat luhur dari rasionalitas manusia (ens rationale).

Olah bola adalah olah jiwa. Kemenangan di laga bola mengaitkan kemenangan merawat jiwa dan memantik harapan.

Ini yang persis dilakukan Del Bosque dan dilakoni seluruh pasukan Spanyol dengan seluruh budi pikiran . Apakah kenyataan ini hendak dinafikan bahkan diciutkan hanya dengan menunjuk kepada krisis ekonomi Spanyol? Absurd ah!

Jangan-jangan memang tersembul keinginan mengekor kepada serigala untuk belajar melolong lantaran menyaksikan orang lain sukses seperti pesta yang kini sedang digelar di negeri Matador?(A024)

Editor: AA Ariwibowo

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga