Sabtu, 2 Agustus 2014

Pakistan-Amerika Serikat tentukan rute logistik NATO

Selasa, 3 Juli 2012 02:45 WIB | 2.208 Views
Pakistan-Amerika Serikat tentukan rute logistik NATO
Ilustrasi serangan milisi Taliban terhadap konvoi truk logistik NATO di wilayah Pakistan. Pakistan merupakan "pintu masuk" penting pasukan International Security Assistance Force yang dipimpin NATO di Afghanistan dengan misi pokok --diklaim-- memulihkan kondisi keamanan dan stabilitas di negara bekas aneksasi Uni Soviet itu. (REUTERS)
Islamabad (ANTARA News) - Pakistan dan Amerika Serikat diperkirakan segera menyetujui pembukaan kembali rute darat bagi logistik pasukan NATO di Afghanistan. Walau belum diungkap jalur rute itu secara terbuka, pembukaan rute itu akan meredakan krisis tujuh bulan hubungan kedua negara tersebut.

Seorang pejabat keamanan senior Pakistan mengatakan kepada Reuters, satu perjanjian diperkirakan akan segera diumumkan. Deputi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Thomas Nides, meninggalkan Islamabad, Senin, setelah berunding dengan pejabat-pejabat Pakistan, kata Kementerian Luar Negeri AS.

Pakistan menutup perbatasannya untuk konvoi perbekalan NATO pada November setelah serangan udara gagal AS yang menewaskan 24 prajurit Pakistan.

Rute pemasokan itu sangat penting bagi rencana penarikan pasukan tempur asing dari Afghanistan sebelum akhir 2014. Itulah rute "paling pintas" bagi logistik pasukan yang bisa memangkas secara signifikan biaya operasi.

Para pejabat senior pertahanan dan pemerintah Pakistan diperkirakan bertemu dengan mitra-mitra mereka dari Amerika Serikat, Selasa, untuk membahas masalah itu. Pemerintahan Barack Obama mengupayakan pengaturan baru bagi pembukaan kembali rute perbekalan itu.

Serangan-serangan pesawat tak berawak (Unmanned Aerial Vehicle - UAV) AS jadi penghalang utama bagi perbaikan hubungan antara Pakistan dan Amerika Serikat, yang memburuk tahun lalu karena operasi komando AS yang menewaskan Osama bin Laden di dalam wilayah Pakistan. 

Serangan udara NATO di dekat perbatasan dengan Afghanistan yang menewaskan 24 prajurit Pakistan.

Islamabad pada 26 April menegaskan lagi penentangan atas serangan pesawat tak berawak AS di wilayah Pakistan ketika utusan AS untuk Pakistan dan Afghanistan, Marc Grossman, tiba di negara itu untuk memperbaiki hubungan yang retak.

Dalam panduan yang disahkan parlemen, Pakistan menetapkan Amerika Serikat harus meminta maaf tanpa syarat atas kematian dalam serangan-serangan UAV itu, pelarangan pengangkutan senjata melewati negara itu dan diakhirinya serangan UAV.

"Kami menganggap UAV ilegal, tidak produktif dan tidak bisa diterima," kata Sekretaris Kementerian Luar Negeri Pakistan, Jalil Abbas Jilani, pada jumpa pers, bersama Grossman.

"Masalah ini juga dibahas pada tingkat tertinggi kepemimpinan sipil dan militer," tambahnya.

Grossman menyampaikan bela-sungkawa atas kematian dalam serangan udara itu namun tidak meminta maaf, dan mengenai masalah pesawat tak berawak, ia mengatakan bahwa baik Pakistan maupun AS menghadapi ancaman dari Al-Qaida dan kelompok militan lain.

Para pejabat AS mengobarkan perang dengan pesawat tak berawak terhadap para komandan Taliban dan Al-Qaida di kawasan suku baratlaut, dimana militan bersembunyi di daerah pegunungan yang berada di luar kendali langsung pemerintah Pakistan.

Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan itu digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.

Islamabad mendesak AS mengakhiri serangan-serangan pesawat tak berawak, sementara Washington menuntut Pakistan mengambil tindakan menentukan untuk menumpas jaringan teror.

Sentimen anti-AS tinggi di Pakistan, dan perang terhadap militansi oleh AS tidak populer di Pakistan karena persepsi bahwa banyak warga sipil tewas akibat serangan pesawat tak berawak yang ditujukan pada militan di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan.

Penduduk merasa bahwa itu merupakan pelanggaran atas kedaulatan Pakistan. Pesawat-pesawat tak berawak AS melancarkan puluhan serangan di kawasan suku Pakistan sejak pasukan komando AS membunuh pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden dalam operasi rahasia di kota Abbottabad, Pakistan, pada 2 Mei 2011.

(M014)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga