Kamis, 28 Agustus 2014

Suu kyi "ngeyel" tetap pakai nama Birma

Selasa, 3 Juli 2012 20:55 WIB | 3.006 Views
Suu kyi
Pemimpin pro demokrasi Myanmar, Aung San Suu kyi, tiba untuk menjadi pembicara dalam pertemuan anggota komunitas negaranya, di Balai Royal Festival, London, Jumat (22/6). Bersuamikan warga negara Inggris yang telah meninggal bertahun lalu, Suu kyi kembali ke Eropa untuk pertama kalinya sejak 1988, ketika ia meninggalkan keluarganya dan tenggelam dalam perjuangan melawan kediktatoran, terutama dari balik gerbang rumahnya di Yangon (dulu Rangoon), Myanmar (Birma). (REUTERS/Suzanne Plunkett)
Yangon (ANTARA News) - Pemimpin oposisi pro demokrasi Myanmar, Aung San Suu kyi, Selasa, menolak perintah pemerintah Myanmar agar berhenti menyebut negara itu Birma --nama suku mayoritas-- yang banyak digunakan juru kampanye demokrasi untuk menentang penguasa.

Penguasa lama mengganti nama resmi negara itu sekitar dua dasawarsa lalu menjadi Myanmar dan mengubah nama ibukotanya, Rangoon menjadi Yangoon. Mereka juga , menyatakan Birma adalah peninggalan pemerintahan jajahan --Inggris-- dan menyiratkan negeri beragam itu hanya milik suku Birma.

Oleh pemerintahan kolonialis Inggris, bahkan gubernur jenderal seberang lautan Kerajaan Inggris Raya untuk wilayah Birma dan India (saat masih melingkupi juga wilayah Pakistan hingga Bangladesh) menyandang gelar Earl of Burma. Yang terakhir menyandang gelar itu adalah Lord Louis Mounbatten yang juga laksamana Angkatan Laut Kerajaan Inggris, paman dari Pangeran Charles.

Panitia pemilihan negara itu pada pekan lalu "menghukum" Suu kyi atas berulang kali menggunakan nama tersebut (Birma) selama lawatan luar negerinya baru-baru ini, menuduh dia dan lawan Liga Bangsa untuk Demokrasi (NLD) melecehkan UUD negara itu.

Di lingkungan ASEAN di mana Myanmar menjadi anggotanya, secara resmi nama negara itu adalah Myanmar.

Tapi, Suu kyi menantang, menyatakan di depan wartawan di Yangon, akan menyebut negara itu dengan nama apa pun ia suka. "Dalam negara demokratis, sesuatu harus dilakukan setelah melihat keinginan rakyat," katanya, dengan menambahkan tentara mengganti nama negara itu tanpa berembuk.

"Kebebasan berbicara dan hak mengutarakan pikiran secara bebas tidak menghina siapa pun. Itu juga tentang asas demokrasi dan kebijakan," katanya.

"Jadi, saya menganggap dapat menggunakan apa pun yang saya ingin gunakan, karena saya percaya demokrasi," katanya. Suu kyi dan NLD menentang keras perubahan nama itu, mencela dengan menyebut hal itu adalah lambang upaya para jenderal menciptakan negara baru.

Pemimpin dunia juga bingung bagaimana menyebut nama negara itu, yang muncul dari berdasawarsa pemerintahan tentara di bawah bimbingan pembaru Perdana Menteri (saat itu) Thein Sein yang kini jadi presiden.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron, menyebut negara itu Birma, sementara pidato Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, baru-baru ini juga menyebut negara kaya akan batu jade itu sebagai Birma.

Tapi, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, memilih cara lebih diplomatik dalam perjalanan ke negara itu pada Desember. Dia menggunakan nama Birma, tapi secara umum lebih memilih menghindari masalah, dengan menyebut negara 1.000 pagoda itu sebagai negara ini.

Bamar/Birma/Barma/Burma adalah suku mayoritas di Myanmar dengan jumlah duapertiga dari penduduk Myanmar. Suku itu beragama Buddha dan menghuni sebagian besar wilayah negara tersebut, kecuali pedesaan.

Meskipun Suu kyi saat berkampanye di daerah suku kecil menjelang pemilihan umum mengenakan busana suku kecil setempat, partainya dikuasai suku terbesar dan berkuasa Birma, yang menekan suku kecil. Suku itu diduga merasa "kehilangan" jika nama negara tersebut berubah.

(B002/H-AK)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga