Sabtu, 1 November 2014

Upacara Tota Timui dipertontonkan untuk masyarakat umum

| 3.276 Views
id Totai Timui, upacara pembersihan diri, suku dayak benuaq, Kutai katanegara, festival erau,
Kelahiran itu identik dengan darah kotor sehingga perlu dilakukan ritual Tota Timui ini. Begitu pula, saat ada kerabat yang meninggal atau prosesi pernikahan, warga Dayak Benuaq menggelar ritual ini untuk dijauhkan dari gangguan roh jahat."
Samarinda (ANTARA News) - Tota Timui atau upacara pembersihan diri yang merupakan adat Suku Dayak Benuaq dipertontonkan untuk masyarakat umum di halaman depan Sekretariat Gerbang Raja, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Selasa (3/7).

Kepala Adat Kelurahan Loa Ipuh untuk Dayak Benuaq dan Tunjung, Ipong Dale di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, mengatakan, prosesi Tota Timui menjadi upacara pembersihan diri dari segala kekotoran sehingga rumah dan isinya tidak kotor.

Prosesi adat Tota Timui itu dilaksanakan dalam rangkaian Festival Erau Adat Pelas Benua Etam, 1-8 Juli 2012.

Menurut Ipong Dale, upacara adat itu kerap dilaksanakan dalam tradisi masyarakat Dayak Benuaq dan Kenyah saat kelahiran, kematian dan pernikahan.

"Kelahiran itu identik dengan darah kotor sehingga perlu dilakukan ritual Tota Timui ini. Begitu pula, saat ada kerabat yang meninggal atau prosesi pernikahan, warga Dayak Benuaq menggelar ritual ini untuk dijauhkan dari gangguan roh jahat," ucap Ipong.

Ritual itu sendiri, dijelaskan Ipong, diawali oleh seorang pawang mengucap mantra menandai dimulainya prosesi Tota Timui.

Sat asap menyan mengepul, sang pawang terus mengucap mantra untuk memanggil roh. Tak lama, bunyi gamelan khas Dayak terdengar. Delapan penari perempuan berdendang sembari melambaikan selendang.

Para penari menuju tempat persembahan roh leluhur. Daun janur berjejer tergantung di atas tali membentuk ruang segi empat.

Di tengah-tengah, tanaman lomuq dan kentilui ditancapkan ke tanah. Di bawah kedua tanaman itu terdapat nasi warna kuning, hijau dan putih sebagai persembahan buat roh leluhur.

"Tak jauh dari pesembahan untuk roh leluhur, seember air kembang mayang disiapkan. Para penari pun masuk arena persembahan dan mendekati air kembang. Secara bergantian, mereka membasuh muka, kaki dan tangan dengan air mayang dari pohon pinang," ujarnya.

Kemudian lanjut Ipong sang Pawang meniup alat untuk memanggil roh walo beliat upo dan siye belian bawe. Kedua roh leluhur ini diberikan persembahan tadi sehingga tidak turun ke tempat lain dan mengganggu acara adat Erau yang tengah berlangsung.

Kedua roh ini disambut dengan kehadiran para penari. Setelah itu, para penari mengoleskan bedak basah kepada warga sekitar agar diberi keselamatan lahir batin.

Untuk acara besar sekelas Erau, prosesi Tota Timui juga bisa dilaksanakan untuk membersihkan atau menyucikan dari hal-hal yang jelek.

Dengan ritual itu diharapkan bisa memberikan kelancaran serta keselamatan selama pelaksanaan Erau.

(KR-RMT/A041)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga