Selasa, 21 Oktober 2014

Nigeria siaga pasca ledakan bom di pusat perbelanjaan

| 5.605 Views
id nigeria, negeria siaga, pasca ledakan bom, juru bicara Badan Penanganan Darurat Nasional (NEMA), Yushau A. Shuaib
Ketika kami berusaha mencari tahu apa yang terjadi, regu anti-bom menemukan sebuah peledak lain. Mereka kemudian meledakkannya."
Abuja (ANTARA News) - Ibu kota Nigeria siaga Rabu setelah bom meledak di luar sebuah pusat perbelanjaan populer, dalam serangan terakhir yang diduga dilakukan oleh militan Boko Haram.

Ledakan pertama terjadi Selasa sekitar pukul 21.00 waktu setempat di sebuah pusat perbelanjaan di distrik Wise II di kota itu, kata juru bicara Badan Penanganan Darurat Nasional (NEMA), Yushau A. Shuaib, dalam sebuah pernyataan.

Petugas penyelamat segera dikerahkan ke lokasi kejadian dan menutup daerah itu, dimana sebuah bom yang tidak meledak ditemukan kemudian, kata seorang pejabat.

"Ketika kami berusaha mencari tahu apa yang terjadi, regu anti-bom menemukan sebuah peledak lain. Mereka kemudian meledakkannya," kata kepala kantor NEMA Abuja, Ishaya Chonoko, kepada wartawan di lokasi kejadian.

"Hal baiknya adalah tidak ada laporan mengenai korban," tambahnya.

Daerah itu segera dipadati petugas penyelamat, sementara pasukan keamanan menjaga agar wartawan tetap berada dalam jarak ratusan meter.

Ketika daerah itu dibuka Rabu pagi, seorang wartawan AFP melihat jendela-jendela toko di dekat pusat perbelanjaan Banex Plaza hancur, namun plaza tersebut tidak terpengaruh.

Plaza di daerah komersial menonjol di ibu kota Nigeria itu populer baik bagi penduduk Nigeria maupun warga asing.

Sebuah pernyataan kepolisian menyebut ledakan itu "berdaya rendah" dan patroli pengawasan "intensif" dilakukan di sekitar kota itu, yang telah berulang kali diserang militan Boko Haram.

Serangan bom bunuh diri terhadap markas PBB di Abuja pada Agustus lalu menewaskan sedikitnya 25 orang, sementara serangan lain pada salah satu kantor surat kabar terkenal di ibu kota Nigeria itu menewaskan empat orang.

Kekerasan meningkat di Nigeria sejak serangan-serangan menewaskan puluhan orang selama perayaan Natal 2011 yang diklaim oleh kelompok muslim garis keras Boko Haram.

Kano, kota berpenduduk sekitar 10 juta orang di Nigeria utara, merupakan wilayah yang terpukul paling parah dalam kekerasan itu.

Rangkaian pemboman dan penembakan melanda Kano setelah sholat Jumat (20/1), menewaskan 185 orang, dalam serangan-serangan yang diklaim oleh Boko Haram yang ditujukan pada markas polisi dan kantor-kantor polisi lain, sebuah bangunan kepolisian dan kantor imigrasi.

Penembakan juga terjadi di sejumlah daerah kota itu, yang sejauh ini luput dari kekerasan terburuk selama beberapa bulan ini yang dituduhkan pada kelompok muslim garis keras tersebut.

Satu sumber kepolisian Nigeria mengatakan kepada AFP, Kamis (26/1), sekitar 200 orang ditangkap setelah serangan itu.

Sehari sebelumnya, Rabu (25/1), Presiden Nigeria Goodluck Jonathan, yang dituduh gagal mengendalikan kekerasan kelompok militan, mencopot kepala kepolisian dengan mengatakan, tokoh baru diperlukan untuk memimpin lembaga itu.

Jonathan mengangkat Mohammed D. Abubakar untuk menggantikan Hafiz Ringim, "sebagai langkah pertama ke arah reorganisasi luas dan reposisi pasukan kepolisian Nigeria untuk membuatnya lebih efektif dan mampu memenuhi tantangan keamanan internal yang muncul", kata kantor presiden dalam sebuah pernyataan.

Ringim dicopot bersama enam asistennya ketika negara itu diguncang gelombang serangan bom dan penembakan oleh kelompok muslim garis keras Boko Haram di kota terbesar kedua Kano yang menewaskan sedikitnya 185 orang.

Serangan-serangan itu merupakan operasi paling mematikan oleh kelompok tersebut dan ditujukan terutama pada kantor polisi.

Boko Haram mengklaim puluhan serangan di Nigeria, termasuk pemboman bunuh diri pada Agustus di markas PBB di Abuja yang menewaskan sedikitnya 24 orang.

Serangkaian serangan bom di kota Jos, Nigeria tengah, pada Malam Natal 2010 juga diklaim oleh Boko Haram.

Boko Haram meluncurkan aksi kekerasan pada 2009 yang ditumpas secara brutal oleh militer yang menewaskan sekitar 800 orang dan menghancurkan masjid serta markas mereka di kota Maiduguri, Nigeria timurlaut.

Kelompok itu tidak aktif selama sekitar satu tahun dan kemudian muncul lagi pada 2010 dengan serangkaian pembunuhan.

Penduduk Nigeria yang berjumlah lebih dari 160 juta orang terpecah di wilayah utara yang sebagian besar Muslim dan wilayah selatan yang umumnya Kristen.

(M014)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga