Senin, 22 Desember 2014

Nyanyian Alam tanda dimulai "Kretakencana Worldmusic Festival"

| 5.351 Views
id Ully Sigar Rusady, festival musik rakyat, Kretakencana Worldmusic Festival, Swarakita Foundation, Alex Komang
Kita dapat mengapresiasikan musik ke dunia luar. Melalui musik kita dapat menyampaikan pesan soal lingkungan, mengenalkan potensi pariwisata ke dunia."
Karanganyar (ANTARA News) - Lagu berjudul Nyanyian Alam yang dibawakan artis terkenal Ully Sigar Rusady pertanda dimulai festival musik rakyat "Kretakencana Worldmusic Festival" (KWF) di bekas Pabrik Gula Colomadu, Kecamatan Colomadu Karanganyar, Rabu (4/7) malam.

Festival yang diikuti 16 delegasi kelompok musik baik lokal maupun internasional tersebut berlangsung di panggung terbuka, bekas PG Colomadu, selama lima hari mulai Rabu (4/7) hingga Minggu (8/7).

Festival itu merupakan produk Swarakita Foundation pimpinan Alex Komang dengan tata cahaya gemerlap, gelegar tata musik, dan tata panggung yang megah, mampu menyedot sekitar 1.000 penonton yang memadati halaman PG Colomadu itu.

Ully Sigar Rusady dengan lagunya Nyanyian Alam diiringi musik perkusi yang dimainkan oleh anak-anak kecil dari MK7 Solo, menghidupkan festival yang mengangkat kelompok musik rakyat ke tingkat dunia.

Ully mengaku mendukung festival itu karena mengapresiasi pesan kepada dunia melalui musik.

"Kita dapat mengapresiasikan musik ke dunia luar. Melalui musik kita dapat menyampaikan pesan soal lingkungan, mengenalkan potensi pariwisata ke dunia," katanya.

Pemilik sekolah musik Vidi Vici tersebut kemudian membawakan lagu yang kedua dengan judul Salam Manis Perdamaian yang disambut meriah oleh para penonton yang memadati di sekitar panggung pertunjukan spektakuler tersebut.

Artis yang dilahirkan di Garut Jabar pada 4 Januari 1952 itu, kembali membawakan lagu tentang lingkungan yakni musik alam yang menyuarakan pelestarian dan bencana alam.

Pada kesempatan itu tampil pula kelompok PSM Voca Erudita berasal dariSolo yang menampilkan sejumlah lagu melalui suara merdu vokal grup Mahasiswa UNS Surakarta.

Kelompok PSM Voca Erudita telah menyabet beberapa penghargaan antara lain terbaik di Grand Prix Pattaya 2011 di Thailand dan World Choir Games 2010 di China.

Kelompok musik rakyat Angklung Paglak dari Banyuwangi yang dimainkan di seatu menara yang terbuat dari bambu setinggi 10 meter memeriahkan KWF.

Kesenian tradisional tersebut biasa dimainkan di tengah sawah, sedangkan angklung alat musik terbuat dari bambu yang instrumennya dimainkan oleh empat orang yakni angklung pria dan angklung wanita.

Kelompok Golden Water berasal dari Solo tidak ketinggalan memeriahkan KWF dengan kolaborasi alat musik modern, tetapi suara gendang mendominasi sehingga alunan musik terasa menggerakkan penonton ingin bergoyang.

Kelompok musik Golden Water tersebut pertama kali merupakan kumpulan mahasiswa seni kreatif berasal dari Banyuwangi yang bertemu di Solo.

Selain itu kelompok musik perkusi berasal dari Solo, Etnoens Emble yang diberdiri pada 2001. Personel Etnoens Emble yang sebagian besar terdiri dari atas para alumni mahasiswa Instritut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu mempunyai minat dan kekaryaan musik.

Festival hari pertama tersebut diakhiri dengan tampilnya tarian Hudoq berasal dari Kalimantan Timur. Tarian itu diangkat dari unsur tari ritual Hudoq dengan identitas unik dari alat keledik.

Tarian yang menghadirkan derap langkah perjuangan masyarakat Dayak Akayaan melawan pengikisan budaya oleh laju globalisasi, termasuk melawan penghancuran lingkungan oleh perusahaan perkebunan raksasa bermodal asing, penebangan hutan, dan eksploitasi "perut bumi" Kalimantan.

Menurut penata tari berasal dari Kalimantan Timur Agnes Gering Blawing, tarian ritual tersebut memohon dan berharap kekuatan, berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menahan pemusnahan kehidupan, memerangi kebodohan, dan membuktikan keasingnya dirinya.

Upacara yang dilakukan masyarakat Dayak tersebut hingga saat ini masih dilestarikan setiap musim tanam padi dengan harapan akan mendapat hasil produksi pangan yang melimpah.

(B018/M029)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga