Minggu, 26 Oktober 2014

Jumlah penolong tingkatkan peluang hidup korban gagal jantung

| 2.435 Views
id gagal jantung, serangan jantung, Cardiopulmonary resuscitation,
"Orang sering menunda untuk mempelajari CPR."
Tokyo (ANTARA News/Reuters) - Ketika jantung seseorang berhenti berdenyut secara mendadak di tempat umum, maka peluangnya untuk bertahan hidup semakin besar jika ada lebih dari satu saksi mata yang berusaha menolong, demikian hasil satu studi di Jepang.

Namun, para pengamat yang mengeluarkan laporan di jurnal Resuscitation mengatakan bahwa tidak ada manfaatnya mempunyai beberapa penolong dalam kasus gagal jantung yang terjadi di rumah.

"Bertambahnya jumlah penolong meningkatkan dampak kesehatan korban yang terkena gagal jantung yang terjadi di luar rumah sakit. Namun, dampak menguntungkan itu tidak berlaku bagi penderita gagal jantung yang terjadi di rumah," tulis pemimpin penelitian Hideo Inaba dari Sekolah Kedokteran Universitas Kanazawa.

Asosiasi Kesehatan Jantung Amerika Serikat (AHA), dan beberapa kelompok lain mengatakan bahwa setiap orang harus mempelajari resusitasi jantung paru-paru, atau CPR, yang secara umum dilakukan dengan kedua tangan untuk menekan dada korban tanpa melakukan nafas buatan dengan mulut.

Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tersebut sama ampuhnya dengan cara tradisional untuk menolong orang dewasa yang menderita gagal jantung.

Studi di Jepang mendapati bahwa di antara 5.000 orang dewasa yang mengalami gagal jantung di luar rumah sakit mempunyai peluang bertahan hidup dua kali lebih tinggi saat lebih dari satu orang yang berusaha untuk menolong.

Enam persen dari jumlah korban tetap hidup satu tahun ketika ada tiga atau lebih orang yang berusaha untuk menolong, sementara tiga persen korban selamat saat hanya satu orang yang berusaha untuk menolong.

Ketika hanya ada dua orang yang berusaha membantu, tingkat kelangsungan hidup korban menjadi empat persen.

Para peneliti tidak mengetahui apakah para penolong tersebut melakukan tindakan bantuan pernafasan (Cardiopulmonary Resuscitation/
CPR) atau tidak. Beberapa dari mereka hanya berusaha menolong dengan sejumlah cara, kata peneliti.

Namun temuan itu menunjukkan bahwa semakin banyak saksi mata yang ikut andil, maka akan semakin baik, kata profesor bidang pengobatan darurat dari Universitas Negeri Ohio Michael Sayre.

"Studi tersebut membenarkan pentingnya kehadiran saksi mata yang menanggapi kegagalan jantung dan juga pentingnya tindakan CPR dini," kata juru bicara AHA itu kepada Reuters Health.

Tim Inaba tidak menemukan alasan yang jelas mengapa tidak ada keuntungan bagi tingkat bertahan hidup korban gagal jantung yang terjadi di rumah walaupun ada lebih dari dua orang yang menanggapi.

Gagal jantung pada usia lanjut dan orang yang lemah sangat mungkin terjadi di rumah.

CPR tidak bisa membuat jantung yang berhenti menjadi berdetak kembali, namun tindakan tersebut bisa menjaga aliran darah dan oksigen dalam tubuh korban hingga pertolongan medis datang.

Selain melakukan CPR, saksi mata juga harus segera memanggil petugas untuk pertolongan medis.

Menurut AHA, lebih dari 380.000 warga Amerika Serikat mengalami gagal jantung di luar rumah sakit setiap tahun, namun sebagian besar warga tidak mempelajari atau bahkan melewatkan pelatihan CPR.

CPR dengan tangan sangat mudah dipelajari walaupun tanpa belajar di kelas pelatihan.

Laman AHA mempunyai video pelatihan CPR di tautan http://bit.ly/LhVoQl.

Sebagai dasarnya adalah memberikan tekanan yang kuat dan terus menerus di dada dengan laju 100 kali per menit.

Para ahli mengatakan bersenandung lagu The Bee Gees yang berjudul "Stayin` Alive" bisa menjadi panduan untuk melakukan tekanan dengan laju 100 kali per menit.

"Orang sering menunda untuk mempelajari CPR. Tapi, kamu tidak akan pernah tahu jika kamu dibutuhkan untuk melakukan pertolongan," kata Sayre.
(Uu.A059/C003)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga