Selasa, 21 Oktober 2014

Bakar rumah untuk selamatkan jiwa di New York

| 5.642 Views
id kebakaran rumah, kebakaran di new york, pemadam kebakaran, rumah dibakar
Bakar rumah untuk selamatkan jiwa di New York
Simulasi pemadaman kebakaran. Tidak seperti di film-film, perilaku api memusnahkan apa saja dalam kebakaran tidak bisa diperkirakan begitu saja. jajaran pemadam kebakaran Kotapraja New York tengah mengembangkan teknik penanggulangan kebakaran besar di sana. (FOTO ANTARA/Zabur Karuru)
... rumah yang lebih alamiah biasanya terbakar dalam waktu 17 sampai 20 menit, rumah modern dapat dilahap api hanya dalam waktu lima menit...
New York (ANTARA News) - Petugas pemadam akan menghabiskan waktu dua pekan untuk membakari rumah di satu pulau kecil di New York Harbor untuk satu tujuan: Menyelamatkan nyawa.

Sebanyak 18 townhouse yang tak dihuni di Governor's Island, New York City, dan dulu digunakan menampung anggota Penjaga Pantai telah berubah jadi kobaran api. Itu dilakukan dalam percobaan bertujuan mengembangkan strategi baru untuk menyelamatkan nyawa.

Townhouse dalam istilah Inggris Amerika adalah rumah dengan dibangun secara semi-rapat di kota-kota besar, tapi tak selalu berupa rumah berjajar.

Dalam satu kegiatan Selasa (3/7), korek api dinyalakan di dekat surat kabar di lantai dasar rumah yang penuh perabot. Dalam waktu lima menit, asap hitam tebal mulai keluar dari pintu belakang. Belum 10 menit berlalu, kobaran api merah tua menjilati jendela lantai dasar.

Petugas pemadam secara bertahap membuka jendela untuk memungkinkan udara segar mengalir masuk, untuk melihat bagaimana kobaran api bereaksi terhadap saluran udara yang berbeda.

Dalam kondisi sesungguhnya, udara masuk secepat mungkin dari pintu, jendela dan atap yang terbuka.

"Mereka membawa ke luar laboratorium buat petugas pemadam," kata insinyur perlindungan dari kebakaran dari National Institute of Standards and Technology, Dan Madryzkowsky yang melakukan ujicoba dengan FDNY dan Underwriters Laboratories, satu kelompok nir-laba.

Gagasan di belakang percobaan itu dan percobaan lain yang berlangsung di Gobernor's Island ialah menemukan kelemahan dalam teknik pemadaman api yang, dalam banyak kasus, belum berubah selama beberapa dasawarsa.

Pada saat sama, rumah tangga modern telah mengalami perubahan dramatis; sebagian besar bahan organik, seperti kapas dan bulu, digantikan dengan bahan sintetis yang lebih terjangkau dan diperkenalkan pada 1970-an, demikian laporan Reuters, Kamis siang.

Dengan perubahan itu muncul lah kecenderungan yang mengganggu, kata Wakil Asisten Kepala Dinas Pemadam, Robert Maynes. Bahan baru itu telah memperpendek waktu yang diperlukan untuk terbakar, dan mengakibatkan api berkobar lebih panas lagi.

Jika rumah yang lebih alamiah biasanya terbakar dalam waktu 17 sampai 20 menit, rumah modern dapat dilahap api hanya dalam waktu lima menit.

Akibatnya, kata Maynes, peningkatan kebakaran dan korban jiwa mulai terlihat dalam statistik dinas pemadam pada 1983.

Para peneliti yang melakukan percobaan di Governor`s Island berharap masing-masing rumah, yang dilengkapi dengan lebih dari 100 sensor yang mengukur oksigen, karbon dioksida, karbon monoksida, aliran udara di semua rumah tersebut dan tingkat panas, akan memberi mereka informasi berharga dalam penanganan kebakaran.

Meskipun laporan resmi dirancang disiarkan dalam satu tahun, informasi penting dapat diketahui dalam waktu beberapa menit setelah percobaan itu dan akan diajarkan sesegera mungkin, kata Komisaris Dinas Pemadam Salvatore Cassano.

Percobaan serupa telah dilancarkan di tempat lain, tapi semua itu dikerjakan di instalasi percobaan tersebut --tempat rumah dibakar di dalam laboratorium dan kondisi seperti angin serta temperatur terkendali.

Sebaliknya rumah di Governor`s Island menyediakan lingkungan alamiah mengenai rumah sesungguhnya, sehingga peneliti melakukan percobaan dengan variasi yang lebih nyata.

"Ini lah tempat ilmu pengetahuan bertemu dengan jalanan," kata John Drengenberg, Direktur Keselamatan Konsumen bagi Underwirters Laboratories.

(C003/A011)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga