Senin, 22 Desember 2014

OIC desak Suu Kyi bantu akhiri kekerasan di Myanmar

| 2.653 Views
id bentrokan di myanmar, masyarat muslim myanmar, tokoh pro demokrasi myanmar, Aung San Suu Kyi
OIC desak Suu Kyi bantu akhiri kekerasan di Myanmar
Pemimpin pro-demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi (REUTERS/Fred Dufour/Pool)
Sebagai penerima Nobel Perdamaian, kami yakin bahwa langkah pertama perjalanan Anda menjamin perdamaian di dunia akan mulai dari tempat Anda sendiri,"
Jeddah, Arab Saudi (ANTARA News) - Ketua Organisasi Kerja Sama Islam (OIC) Ekmeleddin Ihsanoglu pada Kamis mendesak tokoh demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi membantu menghentikan kekerasan terhadap masyarakat Muslim Rohingya di negerinya.

"Sebagai penerima Nobel Perdamaian, kami yakin bahwa langkah pertama perjalanan Anda menjamin perdamaian di dunia akan mulai dari tempat Anda sendiri," kata Ihsanoglu dalam surat kepada Suu Kyi.

Ketua OIC itu yakin Suu Kyi "akan memainkan peran positif dalam mengakhiri kekerasan yang terjadi di negara bagian Arakan (Rakhine)".

Dia mendesak anggota parlemen yang baru terpilih itu untuk meyakinkan pemerintah menerima "penyelidikan internasional atas kekerasan yang terjadi di sana dan memberikan akses bagi kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan dan media internasional" di negara bagian itu yang terletak di Myanmar barat.

Bentrokan-bentrokan berdarah terjadi bulan lalu antara kaum Muslim dan Buddha.

Ihsanoglu menyerukan para korban dapat kembali segera ke masing-masing rumah mereka dan menyatakan kecemasan atas pelanggaran terhadap hak-hak warga Rohingya di Myanmar.

Dalam surat tersebut, ketua OIC mengundang Suu Kyi mengunjungi markas organisasi pan-Muslim yang beranggota 57 negara itu di Jeddah, kota di Laut Merah Arab Saudi.

Kekerasan komunal pada Mei antara etnis Rakhine yang beragama Buddha dan Rohingya yang Muslim merenggut lusinan nyawa dan menyebabkan puluhan ribu orang tanpa rumah.

Pemerintah masih memberlakukan keadaan darurat setelah kekerasan pecah, yang mendorong Presiden Thein Sein memperingatkan bahwa hal itu akan merusak suasana di negara itu yang baru saja keluar dari kekuasaan junta militer selama bertahun-tahun.

Sekitar 800.000 warga Rohingya tinggal di Myanamr, menurut PBB, yang memandang mereka salah satu mionoritas yang paling tertindas di dunia.

Warga Rohingya berbahasa dengan dialek Bengali mirip dengan dialek yang dipakai di bagian baratdaya Bangladesh. Mereka dianggap imigran gelap oleh pemerintah Myanmar dan banyak orang Burma. Karena itu, banyak di antara mereka lari ke nagara-negara ketiga dengan perahu-perahu, demikian AFP.
(M016/B002)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga