Rabu, 27 Agustus 2014

Bappenas: industri pengolahan jadi mesin pertumbuhan ekonomi

Kamis, 5 Juli 2012 14:56 WIB | 3.956 Views
Bandung (ANTARA News) - Pemerintah menjadikan pertumbuhan industri pengolahan (sektor sekunder) sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo.

"Dengan industrialisasi, keunggulan komparatif ditransformasi menjadi keunggulan kompetitif," kata Lukita dalam sosialisasi kebijakan pembangunan di Bandung, Kamis.

Ia menyebutkan, bagi negara berkembang seperti Indonesia, tidak bisa lagi mengandalkan keunggulan komparatif yang hanya mengandalkan sumber daya alam.

"Keunggulan komparatif seperti tenaga kerja yang banyak dan murah serta sumber daya alam apalagi yang tidak terbarui, tidak bisa diandalkan lagi," kata Lukita.

Menurut dia, kunci untuk dapat mengalihkan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif adalah adanya inovasi dan peningkatan kapasitas produksi.

Lukita menyebutkan, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI) akan memperkuat industrialisasi dan meningkatkan daya saing bangsa.

Mengenai adanya deindustrialisasi di Indonesia, Lukita mengatakan bahwa kontribusi sektor industri terhadap PDB yang turun bukan indikasi adanya deindustrialisasi.

"Dalam waktu 10 tahun terakhir memang kontribusi sektor industri kepada PDB turun dari 27 persen ke 24 persen, namun kontribusi tenaga kerja sektor industri meningkat, demikian juga dengan nilai ekspor sektor industri," katanya.

Ia menyebutkan, pada tahun 2009 nilai ekspor produk industri mencapai 73 miliar dolar AS, tahun 2010 sebesar 98 miliar dolar ASN dan tahun 2011 sebesar 122 miliar dolar AS, sementara periode Januari-Maret 2012 mencapai 29 miliar dolar AS.

Komoditas ekspor utama produk industri periode Januari-Maret 2012 meliputi Mesin dan peralatan listrik, mesin/pesawat mekanik, pakaian jadi bukan rajutan, dan alas kaki.

"Sementara komposisi tenaga kerja sektor industri pada 2006 mencapai 12,5 persen, tahun 2010 sebesar 13 persen, dan 2011 sebesar 13,5 persen," kata Lukita.

(A039)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga