Sabtu, 20 Desember 2014

Pelajar SMA ciptakan "T-Box" pengubah asap rokok jadi oksigen

| 11.677 Views
id t-box, alat pengubah asap rokok jadi oksigen
Melalui proses yang sama di `t-box` kedua, menghasilkan oksigen dalam persentase besar yang dialirkan kembali ke `smoking room`. Ini membuat `smoking room` tersuplai oksigen."
Semarang (ANTARA News) - Berawal dari kegelisahan melihat kian banyaknya perokok di sekitar masyarakat, dua orang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Semarang tergerak untuk memutar otak mengatasi problem tersebut.

Mereka adalah Zihramma Afdi (17) dan Hermawan Maulana (16), siswa yang masih duduk di kelas XI SMA. Mereka gundah karena asap rokok yang diembuskan "ahli hisab" (sebutan untuk perokok) sangat mengganggu kesehatan lingkungan.

Berbagai pengelola tempat umum dan instansi, termasuk yang ada di Kota Semarang sebenarnya telah menyediakan fasilitas ruangan merokok (smoking room) untuk "mengarantina" perokok, namun kebanyakan tak dimanfaatkan secara maksimal.

Kenyataannya, sampai saat ini masih kerap dijumpai orang yang asyik merokok di tempat-tempat umum, meski di kawasan itu jelas terpampang peringatan "No Smoking" dan menyediakan fasilitas "smoking room" tersendiri.

Kedua remaja itu melihat fasilitas "smoking room" kerap tak dimanfaatkan karena dibuat apa adanya, asal ruangan tertutup yang terisolasi. Bahkan, terkadang dibuat tanpa memerhatikan sirkulasi udara di ruang tersebut.

"Kalau `smoking room` dibuat seperti itu, tentu saja ruangan akan menjadi penuh asap. Tidak akan mungkin orang mau merokok di situ (smoking room). Beda kalau sirkulasi udara di ruangan itu diatur secara baik," kata Afdi.

Akhirnya, Afdi yang tinggal di Jalan Bedagan 514 Semarang itu mengajak Hermawan yang sama-sama berotak cemerlang mencoba membuat alat yang bisa mengisap asap rokok. Tujuannya, membuat orang "betah" merokok di "smoking room".

Dengan membuat alat itu, mereka sebenarnya tidak bermaksud menambah jumlah perokok, tetapi setidaknya bisa meminimalisasi dampak merugikan yang dihasilkan rokok, yakni berbagai racun yang terkandung dalam asap rokok.

"Kami memang tidak bisa mengurangi jumlah perokok. Namun, kami mencoba bagaimana cara agar fasilitas `smoking room` dimanfaatkan sehingga tidak banyak lagi ditemui orang-orang yang merokok di sembarang tempat," katanya.

Terhitung sejak Juni 2011, kedua remaja yang bersahabat sejak kelas X SMA itu memulai proyek menciptakan alat pengisap asap rokok dan dalam perkembangannya mereka kembali memutar otak untuk memaksimalkan fungsi alat itu.

Mereka membuat alat yang tidak hanya mampu mengisap asap rokok, melainkan sekaligus mampu menyaring karbondioksida (CO2) yang terkandung dalam asap rokok hingga didapatkan oksigen (O2). Oksigen dialirkan kembali ke dalam "smoking room".

Dalam mekanismenya di "smoking room", alat yang selesai digarap pada Juli 2012 itu berfungsi mengisap asap rokok, kemudian menyaringnya hingga tersisa oksigen yang akan dialirkan kembali ke dalam "smoking room".

Zihramma Afdi, remaja kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 17 Februari 1995 itu mengungkapkan, pembuatan alat tersebut sangat mudah, sederhana, dan murah.

Ia dan Hermawan Maulana hanya berbekal Rp200 ribu untuk menciptakan inovasi sains tersebut.


Emas di Bangkok

Berbekal alat yang dinamai "T-Box Application to Reduce The Danger Impact of CO dan CO2 in Smoking Room" itu, mereka memberanikan diri maju ke ajang Internasional Exhibition for Young Inventors (IEIY) di Bangkok, Thailand.

Pada ajang yang berlangsung 28 Juni-1 Juli 2012 itu, alat ciptaan mereka ternyata merebut medali emas, mengalahkan inovasi-inovasi pelajar dari berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, China, dan Jepang.

Afdi, putra pasangan Abdul Hafid dan Ninik Budi itu mengaku awalnya sempat tidak percaya diri tatkala alat mereka diadu dengan hasil penemuan siswa-siswa dari negara lain. Apalagi, stan mereka bersebelahan dengan peserta dari Jepang.

Rekan satu timnya, Hermawan menambahkan bahwa alat ciptaan mereka itu hanya memerlukan komponen sederhana, seperti travo dua ampere, kipas adsorber, lempeng PCB, paku baja, dan "power supply" yang hanya menelan Rp200 ribu.

Cara kerja alat tersebut, asap rokok akan diisap ke dalam kotak (t-box) pertama oleh kipas adsorber yang didalamnya berisi sejumlah komponen yang dirancang sanggup menghasilkan loncatan listrik bertegangan 2.000 volt.

"Listrik bertegangan itu disebut plasma yang akan menghasilkan ozon. Ketika CO2 masuk, ozon akan bereaksi dengan CO2 dan mengikat molekul oksigen yang membentuk senyawa baru, yakni ozon dan oksigen," katanya.

Setelah delapan detik, kata Hermawan, ozon akan berubah menjadi oksigen, sedangkan karbon (C) mengalami proses elektroferesis.

"Output" dari "t-box" pertama berupa oksigen dan sisa CO2 yang belum terurai.

Selanjutnya, putra pasangan Suwaji dan Setijawati, warga Jalan Kenconowungu II/10 Semarang itu mengungkapkan molekul hasil proses "t-box" pertama itu masuk ke ruang filter, kemudian diisap lagi oleh "t-box" kedua.

"Melalui proses yang sama di `t-box` kedua, menghasilkan oksigen dalam persentase besar yang dialirkan kembali ke `smoking room`. Ini membuat `smoking room` tersuplai oksigen," kata remaja kelahiran Pekanbaru, 24 Mei 1996 itu.

Eksperimen mereka terhadap alat itu belum selesai. Kedua remaja jenius itu mengaku akan menyempurnakan alat tersebut untuk mengurangi kadar nikotin dan tar sehingga oksigen yang dihasilkan lebih bersih.

Kepala SMA Negeri 3 Semarang Hari Waluyo mengungkapkan kegembiraannya atas prestasi yang diraih dua anak didiknya itu, sebab mereka mampu mengalahkan pesaing dari negara-negara maju, terutama China dan Jepang.

"Mereka berhasil mengalahkan pesaingnya dari China, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Taiwan, dan Jepang. Kedua siswa ini duduk di kelas XI IPA, mereka bisa menjadi teladan adik-adik kelasnya," kata Hari.

Namun, mereka tak sendirian. Medali emas di ajang yang sama juga diperoleh siswa dari SMP Petra Surabaya dengan inovasi "Water Coated Helmet". Siswa SMA Negeri 2 Yogyakarta dan SD Muhammadiyah Manyar Gresik meraih perunggu.

"Mini Multi Commander" karya Dini Esfandiari dan Shofi Delaila Herdi dari SMA Semesta Semarang dan "Jarimatika Game" karya Nur Chabibur Rohim, Muhammad Asrori, dan Risang Yogardi dari SMK Negeri 1 Tengaran meraih penghargaan khusus. (ZLS/A013)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca