Rabu, 3 September 2014

AL Suriah gelar latihan perang

Minggu, 8 Juli 2012 06:22 WIB | 4.667 Views
Damaskus (ANTARA News) - Pasukan Angkatan Laut Suriah Sabtu melakukan latihan perang menggunakan peluru tajam, sebagai bagian manuver militer yang akan terus berlanjut beberapa hari ke depan dengan partisipasi beberapa jenis angkatan bersenjata Suriah, kata kantor berita SANA.

Latihan perang angkatan laut itu telah dilakukan dengan efisiensi tinggi, kata SANA, dan menambahkan bahwa manuver militer tersebut dilakukan untuk menguji kesiapan tempur angkatan bersenjata dalam situasi seperti perang sebenarnya, lapor AFP dan Xinhua.

Kantor berita negara mengatakan, semua target dihantam dengan berhasil, dan menambahkan bahwa kapal perang dan helikopter angkatan laut yang digunakan dalam permainan perang.

Manuver baru itu terjadi pada saat negara sedang mendapat tekanan internasional dan seruan berulang oleh oposisi yang bermarkas di luar negeri untuk intervensi terhadap Suriah.

Sementara itu Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Jumat, mendesak pengurangan jumlah pengamat militer tak bersenjata di Suriah dan meningkatkan tekanan bagi upaya politik untuk menghentikan konflik.

Ban merekomendasikan dalam satu laporan misi Suriah dengan upaya "pengurangan komponen pengamat militer" yang ditempatkan di Damaskus, dari kota regional tempat konflik telah berkembang dalam beberapa pekan terakhir.

Dewan Keamanan, yang terpecah belah, harus membuat keputusan tentang masa depan 300 pengamat militer tak bersenjata dan lebih dari 120 staf sipil di Suriah menjelang 20 Juli.

Ketegangan dalam debat mengenai masa depan Misi Pengawas PBB di Suriah tampaknya akan meningkat seiring dengan seruan-seruan negara Barat untuk sanksi terhadap Presiden Bashar al-Assad walaupun ditentang oleh anggota Dewan Keamanan pemilik hak veto, Rusia dan China.

Sekjen PBB menyatakan kecemasannya pada "situasi konflik yang berbahaya dan kecenderungan menuju ke situasi yang merusak" antara pemerintah dan oposisi.

Ia mengatakan mandat UNSMIS semestinya tetap tidak berubah, walaupun dengan fokus yang bergeser dari memonitor gencatan senjata yang belum pernah terjadi ke pengawasan aturan politik.

Ban Ki-moon dan utusan Liga Arab-PBB Kofi Annan menginginkan misi itu lebih menangani upaya-upaya untuk membujuk pemerintah dan pihak oposisi menghentikan aksi kekerasan, yang menurut para aktivis telah mengakibatkan lebih dari 16.500 orang tewas dalam 16 bulan terakhir. (AK)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga