Paris (ANTARA News/AFP) - Rusia dan Iran memiliki peran kunci dalam usaha menghentikan pertumpahan darah di Suriah, karena sejauh ini usaha mewujudkan perdamaian di negara itu gagal, kata utusan internasional Kofi Annan pada Ahad.

Utusan PBB-Liga Arab itu mengemukakan kepada surat kabar "Le Monde" Prancis bahwa konflik 16 bulan di Suriah tersebut menunjukkan tidak ada tanda berakhir dan tidak ada jaminan bahwa usaha penengahannya membawa hasil.

"Usaha-usaha besar telah dilakukan untuk menyelesaikan situasi ini dalam suasana damai dengan satu penyelesaian politik. Secara jelas, kita tidak berhasil. Dan mungkin tidak ada jaminan kita akan berhasil. Telah tiga bulan sejak saya dilibatkan," kata Annan lagi.

Rencana Annan, yang menegaskan pada penghentian aksi kekerasan oleh semua pihak, tidak banyak mengalami kemajuan, dan para aktivis mengatakan lebih dari 17.000 orang tewas sejak pemberontakan itu dimulai Maret tahun lalu.

Sekjen PBB Ban Ki-moon Jumat menyerukan pengurangan personil misi pemantau di Suriah mengalihkan perhatian pada usaha-usaha politik untuk menghentikan konflik itu.

Annan yang mantan Sekjen PBB itu menyoroti pentingnya Rusia-- yang sekutu Damaskus yang telah menghambat dua tindakan internasional terhadap pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad-- sementara menekankan bahwa Iran harus dilibatkan dalam perundingan-perundingan.

"Rusia memiliki pengaruh tetapi saya tidak yakin masalah-masalah itu akan diputuskan Rusia sendiri. Iran adalah satu aktor. Negara itu merupakan bagian dari solusi itu. Iran memiliki pengaruh dan kita tidak dapat mengabaikannya."

Annan mengatur satu pertemuan di Jenewa akhir pekan lalu yang menyetujui satu rencana transisi bagi Suriah yang bahasanya dipelintir menyangkut masalah yang memecah belah negara-negara Barat dari Rusia dan China apakah Bashar harus mmiliki satu peran atau tidak dalam satu pemerintah persatuan baru.

(H-RN)