Rabu, 22 Oktober 2014

Cerita dibalik deretan gigi

| 7.125 Views
id forensik gigi, data gigi, susunan gigi, bentuk gigi, struktur gigi, identifikasi gigi, rudi wigianto
Cerita dibalik deretan gigi
Gigi terdiri atas bagian mahkota (corona) yang tampak di atas gusi dan akar yang tertanam pada tulang rahang. (Istimewa)
Dari tingkat gigis, seberapa banyak yang tergerus, bisa diperkirakan usianya. Ada rumus tersendiri untuk menghitung itu
Jakarta (ANTARA News) - Deretan gigi yang melekat pada rahang atas dan bawah dalam mulut manusia tidak hanya berfungsi untuk mengunyah makanan. Keragaman dalam jumlah, struktur, susunan, bentuk dan kondisi gigi di antara individu juga bisa menjadi penanda identitas.

Meski semula gigi semua manusia terdiri atas 20 gigi susu dan kemudian berganti menjadi 32 gigi permanen namun selanjutnya jumlah gigi jadi bervariasi karena kejadian dan perlakuan berbeda yang dialami setiap individu.

"Gigi orang jarang yang utuh, ada yang patah atau tanggal karena jatuh, ada yang dicabut, ada yang ditambal. Itu menimbulkan variabilitas yang membuat seseorang berbeda dengan yang lain," kata ahli forensik gigi, Rudi Wigianto, kepada ANTARA akhir pekan lalu.

Struktur, susunan, bentuk dan kondisi gigi pada setiap individu juga spesifik, bahkan pada saudara kembar sekalipun.

"Kemungkinan mirip hanya satu banding satu juta," kata Rudi, yang belajar forensik gigi di Universitas Groningen, Belanda.

Variasi tersebut menjadikan deretan gigi sumber penelusuran identitas seseorang dalam keadaan darurat atau bencana.

Rudi mencontohkan, kekhasan susunan dan bentuk permukaan gigi serta rahang bisa menjadi penunjuk ras individu.

"Misalnya pada ras negroid susunan gigi umumnya renggang, ada celah. Tanda khas juga ada pada ras asian dan kaukasian dalam hal bentuk permukaan dan lengkungan langit-langit," tuturnya.

Perbedaan pola hidup dan kebiasaan makan mungkin juga membedakan struktur, bentuk dan susunan gigi pada beragam suku bangsa yang ada di Indonesia.

"Saya rasa itu mungkin, tapi setahu saya belum ada penelitian detail mengenai itu," katanya.

Kondisi gigi pun bisa menunjukkan umur seseorang. Umur seseorang, menurut Rudi, bisa diperkirakan berdasarkan banyaknya lapisan gigi yang tergerus.

"Dari tingkat gigis, seberapa banyak yang tergerus, bisa diperkirakan usianya. Ada rumus tersendiri untuk menghitung itu," jelasnya.

Selain itu, ia menambahkan, perbedaan permukaan gigi pada setiap individu bisa membantu proses pengungkapan dan pembuktian kasus kejahatan.
 
"Pernah ada kasus kekerasan dimana korban digigit oleh pelaku. Bekas gigitan itu difoto kemudian dicocokkan dengan lekukan pada permukaan gigi dari orang yang disangka sebagai pelaku. Itu bisa jadi bukti," paparnya.


Mudah dan cepat

Rudi mengatakan, proses identifikasi menggunakan gigi sebenarnya sederhana, mudah, cepat dan murah.

"Kita bisa mengidentifikasi seseorang hanya dari serpihan tulang rahang dan satu gigi," kata Rudi mengacu pada pengalamannya membantu proses identifikasi korban pemboman di Bali tahun 2002 dan 2005.

Namun, ia melanjutkan, segala kemudahan itu hanya bisa diperoleh dengan dukungan data dasar gigi warga yang bagus.

"Prinsip identifikasi kan mencocokkan, membandingkan data sebelum dan sesudah. Jadi kalau data sebelumnya tidak tercatat baik tentu akan sulit," katanya.

Sayangnya, kata dia, sampai sekarang data tentang gigi penduduk Indonesia masih sangat minim dan sama sekali belum tertata sehingga pencocokan data gigi dalam proses identifikasi tidak begitu mudah dilakukan.

"Jadi paling dengan mengandalkan ingatan keluarga atau kerabat saja, tentang misalnya keberadaan gigi yang gingsul atau ompong. Hasilnya pun selanjutnya masih harus dicek ulang dengan data lain," katanya.

Padahal kalau ada pencatatan data gigi yang memuat rincian kondisi gigi seseorang, termasuk gambar panoramik gigi dengan sinar X serta perlakuan yang pernah diterima seperti penambalan, penggunaan gigi tiruan, dan pemasangan kawat gigi maka proses idenfitikasi bisa dilakukan secara mudah dan cepat.

Rudi mengatakan, upaya pendataan gigi sebenarnya tidak terlalu sulit, bisa dilakukan dengan mewajibkan penyerahan hasil pemeriksaan gigi dalam pemberian surat izin mengemudi.

Data tersebut kemudian dikumpulkan menjadi data dasar yang dikelola oleh instansi tertentu sehingga bisa mudah diakses jika sewaktu-waktu diperlukan untuk keperluan identifikasi.

"Sekarang tinggal instansi mana yang mau melakukan saja," demikian Rudi Wigianto.

(M035)


Editor: Fitri Supratiwi

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca