Jakarta (ANTARA News) - Masyarakat sebaiknya mengingat kandungan obat ketimbang menghafal merk dagang obat tertentu agar bisa menentukan produk yang sesuai dengan gejala penyakit yang diderita, kata Kepala Bidang Informasi Keracunan Badan Pengawas Obat dan Makanan Tri Asti Inariani.

"Mengingat kandungan obat lebih penting daripada mengingat merknya agar saat terserang penyakit tertentu, seseorang tidak perlu mengonsumsi obat lain dengan kandungan yang tidak dia perlukan," kata Asti dalam suatu dialog di Jakarta, Selasa.

Bagi seseorang yang mengetahui kandungan suatu obat, dia hanya akan memilih obat yang mengandung bahan tersebut. Misalnya jika seseorang demam, dia akan memilih obat dengan kandungan paracetamol, bukan obat lain.

"Begitu pula jika sakit kepala, orang itu tidak akan membeli obat flu yang kandungannya tidak dia butuhkan, tapi membeli obat pereda nyeri untuk meredakan sakitnya," kata Asti.

Hal yang sama juga dituturkan Kepala Biro Hukum dan Humas BPOM Budi Djanu Purwanto.

Ia mengatakan bahwa terkadang sebagian orang akan menyebut obat tertentu dengan nama yang berbeda. "Misalnya seseorang menyebut obat itu X, tapi yang lain mengatakan itu Y. Sebenarnya, itu obat yang sama, hanya saja yang satu menyebut merk sedang yang lain menyebutkan kandungannya," katanya.

Budi mengatakan ada dua nama yang lazim terlihat di kemasan obat bebas di pasaran. Nama yang paling atas dan paling besar merupakan merk, sedangkan nama yang ada di bagian bawah merupakan nama zat aktif yang terkandung.

Seringkali, tambahnya, kandungan obat yang ditulis merupakan kombinasi dari beberapa bahan yang terkandung dalam obat. "Misalnya antasida yang merupakan kombinasi magnesium hidroksida dan aluminium," katanya.

(A025)