Kamis, 18 September 2014

ITS bantu atasi pencemaran limbah PG Gempolkerep

Selasa, 10 Juli 2012 20:21 WIB | 7.075 Views
Surabaya (ANTARA News) - Para pakar ITS Surabaya menggelar diskusi ahli di kampus setempat, Selasa, untuk membantu Pabrik Gula (PG) Gempolkerep di Gedeg, Mojokerto, Jatim, dalam mengatasi pencemaran limbah yang diprotes masyarakat setempat.

"Kami dalam kondisi serba salah. Kami menerima sanksi dan desakan dari pemerintah untuk berhenti beroperasi akibat dampak pencemaran, tetapi petani tebu mendesak kami untuk tetap beroperasi," kata Administrator PG Gempolkerep, Yadi Yusriadi.

Desakan pemerintah itu mengacu adanya limbah industri PG Gempolkerep yang menyebabkan 800 ribu ikan mati sehingga desakan pemerintah dan para petani tebu semakin menyudutkan posisi pihak manajemen pabrik.

Kenyataan yang ada menunjukkan, ribuan petani beserta para pekerjanya menggantungkan hidup dari operasi PG Gempolkerep. "`Close loop` adalah satu-satunya solusi yang bisa kami berikan saat ini," ujar Yadi. "Close loop" adalah proses produksi tertutup tanpa mengeluarkan limbah ke lingkungan.

Ia mengakui masalah pencemaran sejak tanggal 25 Mei lalu itu cukup menyita perhatian, apalagi berbagai kepentingan ikut terlibat dalam penanganannya, mulai dari pemerintah, para petani tebu, hingga masyarakat luas.

Menyikapi hal itu, dosen teknik kimia ITS Ir. Tontowi Ismail, M.Sc. mengatakan bahwa pabrik secara teknis memang harus membuang limbah.

"Pabrik harus berhenti beroperasi bila tidak membuang limbahnya. Kuncinya adalah memaksimalkan efisiensi pabrik sehingga limbah dapat diminimalkan," katanya.

Namun, kerusakan instalasi pabrik akibat lalainya operator pabrik akhirnya membuat dirinya bersama Ir. Suwarno, M.Eng. melakukan audit dan peninjauan terhadap pabrik selama 10 hari.

"Hasilnya cukup melegakan karena pihak pabrik sudah mulai melakukan in-house keeping (perawatan internal) meski sulit memastikan PG Gempolkerep sebagai satu-satunya penyebab timbulnya masalah pencemaran lingkungan," katanya.

Diskusi ahli itu menyimpulkan bahwa baku mutu tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan. Namun, harus dipertimbangkan juga mengenai daya tampung dan daya dukung sungai.

(E011/D007)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga