Kamis, 23 Oktober 2014

BI: pertumbuhan kredit tinggi tidak timbulkan `overheating`

| 3.413 Views
id pertumbuhan kredit perbankan, overheating, gubernur bi, darmin nasution, bank indonesia
BI: pertumbuhan kredit tinggi tidak timbulkan `overheating`
Bank Indonesia - BI (FOTO ANTARA News)
Kenaikan pertumbuhan kredit itu telah diantisipasi sejak awal dengan adanya aturan kenaikan uang muka kredit kendaraan bermotor dan properti,"
Jakarta (ANTARA News) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan tingginya pertumbuhan kredit perbankan sebesar 28 persen melebihi Rencana Bisnis Bank (RBB) yang hanya 24 persen tidak akan mengakibatkan `overheating` ekonomi karena sudah diantisipasi sejak awal.

"Kenaikan pertumbuhan kredit itu telah diantisipasi sejak awal dengan adanya aturan kenaikan uang muka kredit kendaraan bermotor dan properti," kata Darmin usai mengikuti rapat dengan Badan Anggaran di gedung DPR-RI Jakarta, Selasa.

Menurut dia, sampai dengan akhir tahun 2012 diperkirakan pertumbuhan kredit tidak akan tinggi meski dalam enam bulan pertama pertumbuhannya sudah mencapai angka 28 persen.

Ia menjelaskan, untuk mencegah terjadinya overheating, pihaknya dan Kementerian Keuangan telah menerbitkan aturan kenaikan uang muka untuk kredit sektor konsumsi yaitu kendaraan bermotor dan kepemilikan rumah.

"BI sejak awal sudah memperhitungkan kenaikan DP ke depan, sebab BI melihat kredit di sektor konsumsi akan tumbuh dengan cepat. Kalau kredit tumbuh tinggi, konsumsi ikut tinggi. Kita sudah tahu sejak enam bulan lalu arah perkembangan itu. Untuk itu kita keluarkan peraturan," katanya.

Ditambahkannya, yang namanya overheating itu yang pertama-pertama harus diperhatikan adalah sektor properti, serta kendaraan mobil dan motor. Sedangkan untuk investasi dan industri BI menilai tidak terlalu bermasalah karena ini sudah diantisipasi sebelumnya.

BI mencatat bahwa stabilitas sistem perbankan tetap terjaga dan disertai dengan fungsi intermediasi yang meningkat dalam mendukung pembiayaan perekonomian.

Industri perbankan menunjukkan kinerja yang baik sebagaimana tercermin pada meningkatnya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang berada jauh di atas minimum 8,0 persen serta rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross yang terjaga di bawah 5,0 persen.

Sementara itu, intermediasi perbankan juga terus membaik, tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga akhir April 2012 mencapai 25,7 persen (yoy).

Kredit investasi tumbuh cukup tinggi, sebesar 28,8 persen (yoy), dan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perekonomian. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 27,7 persen (yoy) dan 20,5 persen (yoy).
(ANT-135/R010)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Terpopuler
Baca Juga