Senin, 22 Desember 2014

Menparekraf nilai pengetahuan masyarakat terhadap taman budaya minim

| 3.321 Views
id mari elka pengestu, menparekraf, taman budaya
Menparekraf nilai pengetahuan masyarakat terhadap taman budaya minim
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu (ANTARA)
pemerintah daerah perlu segera menciptakan iklim kreativitas di taman budaya
Surabaya (ANTARA News) - Menteri Pariwisata Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif/Menparekraf, Mari Elka Pangestu menilai pengetahuan masyarakat terhadap keberadaan taman budaya di Indonesia minim karena kurangnya promosi untuk mengenalkan kepada generasi muda.

"Memang keberadaan taman budaya dan tingkat kunjungannya tergantung daerahnya. Namun, sosialisasi dan publikasi taman budaya sangat penting," katanya, ditemui dalam Lokakarya Nasional Pengembangan Seni dan Budaya, di Surabaya, Kamis.

Menurut dia, budaya memiliki makna sangat luas baik dari sisi tradisional maupun kontemporer.

"Sejak sekarang pemerintah daerah perlu segera menciptakan iklim kreativitas di taman budaya supaya masyarakat di Tanah Air termasuk kalangan muda mengenal lebih dalam apa yang dimaksud taman budaya," ujarnya.

Ia optimistis, dengan memahami taman budaya maka generasi muda di Tanah Air dapat mengetahui beragam warisan budaya Bangsa Indonesia.

"Untuk itu, sesuai program Kementerian Pariwisata Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif siap melakukan serangkaian upaya untuk menarik masyarakat berkunjung ke taman budaya pada tiga tahun mendatang," katanya.

Ia mencontohkan, upaya tersebut berupa aktivasi berbagai kegiatan maupun pelatihan yang diadakan oleh pelaku pariwisata di Indonesia seperti dengan memfasilitasi seni tari, lukis, dan lainnya.

"Selain itu, perlu adanya dokumentasi dan pengarsipan segala hal tentang kebudayaan Bangsa Indonesia terutama di tingkat daerah," katanya.

Mengenai lemahnya aspek dokumentasi, lanjut dia, tampak dari pertunjukan Tari Saman yang disajikan di sejumlah daerah. Apalagi, Tari Saman seharusnya dilakukan oleh laki-laki yang memiliki rambut panjang.

"Bahkan penari Tari Saman bukan sejumlah perempuan. Untuk itu, dokumentasi kembali menjadi sangat penting guna menghindarkan adanya klaim seperti yang terjadi pada Tari Tor-Tor," katanya.

Pada kesempatan sama, Perwakilan Taman Budaya dari Kalimantan Selatan, Nur Hidayat Sultan, mengemukakan, selama ini perkembangan seni dan budaya di Kalimantan Selatan mengalami kendala serupa dengan daerah lain.

"Seni dan budaya tidak hanya menjadi masalah pemerintah provinsi melainkan pemerintah kabupaten/kota seiring diberlakukannya otonomi daerah," katanya.
(ANT)

Editor: AA Ariwibowo

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga