Kamis, 28 Agustus 2014

Kemenkeu lakukan langkah antisipasi krisis global

Kamis, 12 Juli 2012 20:59 WIB | 3.661 Views
Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Keuangan melakukan langkah yang komprehensif untuk menghadapi peningkatan volatilitas di pasar keuangan global serta untuk mempertahankan kekuatan fundamental makro ekonomi dalam mengantisipasi krisis global.

"Langkah-langkah proaktif yang dirancang untuk meningkatkan kesiapan pemerintah dalam menghadapi krisis," ujar Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, langkah tersebut adalah penyiapan protokol krisis manajemen (Crisis Management Protocol/CMP) yang memungkinkan otoritas fiskal dan pasar keuangan untuk bertindak cepat dan tegas dalam mencegah krisis atau meminimalkan dampak krisis.

"CMP merupakan indikator peringatan dini yang terbagi dalam beberapa tingkatan krisis yang dilengkapi tindak penyelamatan pada masing-masing level," ujar Mahendra.

Mahendra menambahkan langkah lainnya adalah penyiapan kerangka stabilisasi obligasi (Bond Stabilization Framework) yang mengatur mekanisme rinci tentang pemanfaatan sumber dana dalam menstabilkan pasar obligasi dan mekanisme koordinasi antar pihak terkait.

"Langkah ini juga mengatur koordinasi antara otoritas pengambilan keputusan, prosedur operasional dan mekanisme pertukaran informasi, serta time table dalam pengambilan keputusan dan tindakan yang cepat," katanya.

Ia mengatakan Kementerian Keuangan juga menyiapkan prosedur pengelolaan risiko fiskal yang memberikan lebih banyak fleksibilitas bagi pemerintah untuk menyesuaikan jumlah pengeluaran ataupun pembiayaan dalam menghadapi memburuknya kondisi perekonomian.

Menurut Mahendra, sesuai pasal 43 UU APBN Perubahan 2012, DPR akan memberikan persetujuan atas tindakan mitigasi risiko oleh pemerintah dalam waktu 24 jam.

"Selain itu, berdasarkan pasal 40 UU APBN Perubahan 2012, pemerintah dapat menggunakan saldo anggaran lebih (SAL) untuk menstabilkan pasar obligasi pemerintah domestik," katanya.

Langkah terakhir adalah melakukan pinjaman siaga atau fasilitas pembiayaan kontijensi yang didukung oleh mitra pembangunan internasional, dimana pemerintah dapat memanfaatkan jika tidak dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan dari pasar keuangan.

"Pembiayaan kontijensi merupakan fasilitas serupa asuransi yang dimaksudkan untuk memberikan back-up pembiayaan bagi pemerintah selama 2012 dan 2013," kata Mahendra.

Ia menjelaskan fasilitas senilai lima miliar dolar AS ini akan ditarik jika terjadi kondisi ekstrim di pasar keuangan dan akan dimanfaatkan setelah langkah proaktif lainnya dijalankan, yakni diaktifkannya BSF dan sumber pembiayaan lain seperti SAL.

"Fasilitas sejenis pernah diperoleh pemerintah pada 2009 sampai 2010 yang sangat membantu dalam meningkatkan kepercayaan pasar," ujarnya.

Lembaga keuangan multilateral Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia masing-masing berkontribusi sebesar dua miliar dolar AS dan 500 juta dolar AS, sedangkan mitra bilateral seperti Australia menyiapkan satu miliar dolar Australia dan Jepang melalui Bank Pembangunan Internasional Jepang berkontribusi 1,5 miliar dolar AS.

"Pemerintah berkomitmen tetap menjaga tingkat utang pada level aman, meskipun fasilitas dimaksud sifatnya berupa pinjaman siaga," kata Mahendra.

Hingga saat ini, posisi keuangan pemerintah didukung oleh pemenuhan pembiayaan yang telah mencapai 18 miliar dolar AS yang diperoleh melalui pasar keuangan serta jumlah SAL yang besar.

Menurut rencana, sisa pemenuhan pembiayaan sebesar 11 miliar dolar AS akan dipenuhi selama paruh kedua tahun ini.  (S034/Z002)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga