Selasa, 29 Juli 2014

"Politik uang" ditengarai membesar di putaran dua

Jumat, 13 Juli 2012 13:18 WIB | 2.815 Views
Ilustrasi (ANTARA News/Ferly)
Jakarta (ANTARA News) - Potensi politik uang semakin besar pada Pilkada DKI Jakarta putaran kedua nanti, mengingat pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur agar sekuat tenaga mencapai kemenangan, demikian Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta Ramdhansyah, Jumat.

Untuk mengantisipasi soal ini, sambung Ramdansyah, Panwaslu DKI Jakarta intensif menggelar kampanye antipolitik uang dengan para pemantau Pilkada dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat.

"Pada putaran kedua potensinya (politik uang) semakin besar," kata Ramdhansyah.

Panwaslu juga mengandalkan posko pengaduan masyarakat untuk meminimalkan terjadinya politik uang pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta yang kemungkinan mempertarungkan kubu Joko Widodo - Basuki Tjahaya Purnama dan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli.

"Kami berharap pasangan-pasangan calon jangan mencampurkan yang hak dan batil, apabila tujuannya positif, maka cara-cara yang digunakan juga harus positif," ujar Ramdhansyah.

Keputusan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2012 akan diumumkan 20 Juli ini oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Perhitungan-perhitungan cepat yang dilakukan beberap saat setelah pemungutan suara pada Pilkada DKI 2012 menunjukkan tidak ada satu pun kandidat yang meraih suara 50 persen plus 1, sehingga Pilkada DKI akan dilanjutkan ke putaran dua.

Sejauh ini, berdasarkan sejumlah survey dan hitung cepat, pasangan Joko Widodo - Basuki Tjahaya Purnama dan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli mengantungi suara terbesar, jauh meninggalkan empat pasangan kandidat lainnya.

Joko dan Basuki atau Jokowi-Ahok memimpin di posisi teratas versi hitung cepat itu.

SDP-52

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga