Jumat, 19 Desember 2014

RI kecewa ASEAN gagal capai kesepakatan soal Laut China Selatan

| 4.852 Views
id laut china selatan, code of conduct, peredaan ketegangan, kegagalan asean, klaim wilayah laut china selatan, marty natalegawa
RI kecewa ASEAN gagal capai kesepakatan soal Laut China Selatan
Menlu Marty Natalegawa (FOTO ANTARA)
Kamboja telah menunjukkan dirinya sendiri sebagai kuda tunggangan China. Ini akan membuat perundingan soal tata perilaku dengan China menjadi semakin sulit."
Phnom Penh (ANTARA News) - Indonesia kecewa terhadap hasil pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, yang tidak berhasil menyatukan pandangan soal upaya perundingan dengan China menyangkut tata perilaku di wilayah sengketa Laut China Selatan.

Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa, yang memainkan peran kunci dalam upaya untuk pencapaian kompromi, menyatakan "kekecewaan yang sangat mendalam" atas tidak tercapainya konsensus oleh ASEAN, lapor AFP.

"Masih ada pandangan bersama yang kita harus memperkuat upaya-upaya kita mengerjakan COC (tata perilaku), untuk memulai pembicaraan kita dengan pihak China tentang COC," tambahnya.

ASEAN terdiri Kamboja, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, Laos, Vietnam, Myanmar, Thailand, Singapura dan Indonesia

Hari-hari diplomatik yang panas dalam pertemuan ASEAN itu berakhir hari Jumat dengan kegagalan karena posisi negara-negara ASEAN terhadap China terpecah hingga untuk pertama kalinya dalam sejarah, ASEAN gagal mengeluarkan pernyataan bersama.

Para menteri luar negeri kesepuluh negara ASEAN sejak Senin terus berdebat untuk menghasilkan pernyataan diplomatik.

Kegagalan itu berarti menahan kemajuan pembahasan tentang tata perilaku (code of conduct), yaitu aturan yang ditujukan untuk menenangkan ketegangan dalam masalah Laut China Selatan.

China mengklaim kedaulatan hampir di seluruh wilayah laut yang kaya akan sumber daya dan merupakan jalur pelayaran utama itu.

Namun, beberapa negara anggota ASEAN, yaitu Filipina, Vietnam, Malaysia dan Brunei juga sama-sama mengklaim wilayah tersebut.

Tata perilaku, yang sudah lama tertunda dan sangat didukung oleh Amerika Serikat, dianggap menjadi sebuah cara untuk mengurangi kemunginan pertengkaran menyangkut perikanan, hak-hak pelayaran ataupun eksplorasi minyak dan gas, bergerak menjadi konflik bersenjata.

Filipina mengecam kegagalan tersebut di akhir pertemuan hari Jumat dengan mengatakan pihaknya "menyayangkan komunike bersama tidak dihasilkan... yang belum pernah terjadi sebelumnya selama 45 tahun keberadaan ASEAN".

Filipina sebelumnya bersikeras agar ASEAN meninjau kebuntuan dengan China bulan lalu soal daerah yang disebut Dangkalan Scarborough, namun Kamboja --yang merupakan sekutu Bejing serta ketua pertemuan ASEAN-- menolak.

Filipina dan Amerika Serikat pekan ini menyerukan ASEAN bersatu untuk berunding dengan China, sementara Beijing lebih menginginkan untuk menempuh cara invidual dalam menangani klaim bertumpuk oleh negara-negara atas Laut China Selatan.

China merupakan penyokong penting Kamboja --tuan rumah yang paling banyak menuai kritik-- dan sejumlah diplomat mengatakan bahwa Beijing selama di Phnom Penh melakukan tekanan agar sengketa Laut China Selatan tidak disebut-sebut di dalam komunike.

Menteri Luar Negeri Kamboja Hor Namhong menyesalkan adanya perselisihan di dalam ASEAN, namun ia mengatakan pihaknya "tidak dapat menerima bahwa komunike bersama dijadikan penyanderaan masalah bilateral (antara Filipina dan China)".

Para menteri luar negeri pada hari Minggu lalu mengatakan mereka telah menyepakati "unsur-unsur penting" rancangan COC yang akan disampaikan kepada China.

China sendiri bersikap terbuka terhadap ide soal memulai negosiasi --hampir 10 tahun sejak ide tersebut disepakati untuk pertama kalinya-- namun mengatakan pihaknya hanya akan memulai negosiasi "kalau kondisinya sudah matang".

Para analis mengatakan gesekan yang terjadi bisa "mencemari" masa depan perundingan antara ASEAN dan China.

"Kamboja telah menunjukkan dirinya sendiri sebagai kuda tunggangan China. Ini akan membuat perundingan soal tata perilaku dengan China menjadi semakin sulit," kata pakar Asia Tenggara, Carl Thayer.

"Sulit dipercaya bahwa menteri-menteri ASEAN tidak dapat mencapai formulasi yang memuaskan semua pihak." (T008/RN)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga