Jakarta (ANTARA News) - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofyan Wanandi mengimbau Bank Indonesia (BI) lebih bisa menjaga fluktuasi nilai tukar rupiah.

"Naik turunnya harga yang terlalu sering dan tinggi akan mengganggu pasar," kata Sofyan Wanandi di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, penurunan nilai rupiah tidak bisa terlalu jauh berbeda. "Masih bisa ditolelir apabila kisarannya masih sekitar 9.000 hingga 9.800," katanya.

Sofyan mengatakan apabila nilai tukar rupiah terlalu rendah dan berdampak pada meningkatnya harga maka akan berdampak buruk terhadap eksportir lokal karena bahan baku ekspor pun akan semakin mahal.

Apindo menyikapi ini dengan sangat hati-hati karena turunnya nilai rupiah tentu akan sangat mempengaruhi harga berbagai komoditas seperti batu bara, minyak dan lain-lain.

Memang, dia menambahkan, turunnya nilai rupiah tentu tidak mengkhawatirkan eksportir.

"Eksportir dalam hal ini (turunnya nilai rupiah) malah justru diuntungkan, namun sebaliknya akan memberatkan importir," katanya.

Menurut data dari Bank Indonesia (BI) nilai tukar rupiah pada triwulan II-2012 masih mengalami tekanan depresiasi. Rupiah secara "point-to-point" melemah sebesar 2,65 persen menjadi Rp9.393 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 2,27 persen menjadi Rp9.277 per dolar AS.

Menurut Ekonom dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam, jika penurunan terus membengkak, BI harus melakukan intervensi dengan menggelontorkan cadangan devisa ke pasar untuk menahan pelemahan rupiah. (SDP-56)