Rabu, 1 Oktober 2014

Menparekraf minta Mendikbud dirikan sekolah talenta

Jumat, 13 Juli 2012 20:00 WIB | 4.337 Views
Menparekraf minta Mendikbud dirikan sekolah talenta
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu. (FOTO ANTARA/Ujang Zaelani)
jangan memandang negatif kepada siswa yang pemikirannya berbeda dari kawannya, tidak suka menghafal karena suka musik atau menggambar."
Surabaya (ANTARA News) - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu meminta Mendikbud untuk mendirikan sekolah talenta, seperti sekolah film, musik, kuliner, fashion, dan sebagainya.

"Pendidikan di Indonesia masih banyak mengajarkan hal-hal yang bersifat hafalan, pemikiran yang seragam, belum berani bicara di depan kelas, dan sebagainya," katanya di Surabaya, Jumat.

Didampingi Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung PhD, ia mengemukakan hal itu di sela-sela peresmian Fakultas Industri Kreatif (FIK) Universitas Surabaya (Ubaya).

"Sekarang, cara berpikir seorang guru harus dibalik, jangan memandang negatif kepada siswa yang pemikirannya berbeda dari kawannya, tidak suka menghafal karena suka musik atau menggambar," katanya.

Oleh karena itu, katanya, sekolah yang mendorong kreasi siswa seperti SMK harus dikembangkan. "Saya memberi masukan ke Mendikbud agar kurikulum SMK juga diarahkan kepada sekolah talenta," katanya.

Sementara itu, pihaknya akan mendukung sekolah talenta dengan menyediakan fasilitas untuk berekspresi, seperti taman budaya, festival, pameran, mal, dan ruang publik lainnya.

Selain sekolah talenta, katanya, Kemendikbud juga mengembangkan pendidikan informal secara masfi, seperti sanggar tari, komunitas seni, dan sebagainya.

"Kalau sumber daya manusia dan iklim untuk berkreasi itu tercipta, maka akan terjadi gelombang industri kreatif yang luar biasa," katanya sambil memuji langkah Ubaya mendirikan Fakultas Industri Kreatif (FIK).

Menurut dia, Indonesia sendiri memiliki syarat untuk menjadi persemaian gelombang industri kreatif, karena Indonesia memiliki tiga modal yakni warisan budaya yang beragam, kearifan lokal, dan teknologi.

"Tinggal bagaimana menjaga momentum kreatifitas itu dengan nilai tambah untuk menjadi industri kreatif, tentu perlu dukungan kolaborasi antara seniman dengan industriawan," katanya.

Ia menilai kreatifitas dan seni itu merupakan kekuatan Indonesia yang bila dikemas dengan nilai tambah yang baik melalui industri kreatif akan menumbuhkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat.

"Buktinya, batik sudah menjadi pakaian yang gaul dan tidak jadul, itulah sukses dari kreatifitas yang didukung industri, ada kolaborasi antara seni dan bisnis," katanya.

Ia mengaku ada seni yang memang tidak bisa dibisniskan karena menjadi bagian dari ritual, namun inspirasi dari seni yang ritual itu dapat ditarik keluar menjadi seni komersial tanpa meminggirkan seni yang ritual.

"Untuk seni yang ritual akan menjadi tugas dari pemerintah pusat dan daerah untuk menjaganya, sedangkan saya yang mengembangkan industri kreatif," katanya.

Setelah meresmikan FIK Ubaya itu, Menparekraf berkeliling melihat hasil kreatifitas mahasiswa Ubaya seperti pakaian dengan mode dari kertas dan beberapa UKM yang selama ini dibina sivitas akademika Ubaya. (ANT)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga