Jumat, 19 Desember 2014

Ronggeng menebar pesan di Festival Gunung

| 7.379 Views
id Ronggeng Gunung, Festival Gunung, Gunung Merbabu, Gunung Menoreh
Ronggeng menebar pesan di Festival Gunung
Dokumen foto sejumlah seniman komunitas Lima Gunung melakukan kirab keliling dusun pada pembukaan Festival Lima Gunung. (ANTARA/Anis Efizudin)
"Baru sekali ini ada pentas ronggeng di dusun kami."
Semarang (ANTARA News) - Hampir semua seniman petani kelompok ronggeng dari Gunung Merbabu yang pentas malam itu boleh dibilang tidak mengerti sejak kapan tariannya mulai menjadi tradisi berkeseniannya.

Namun, merea dari grup kesenian ronggeng Dusun Kiyudan, Desa Ketundan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mengetahui secara baik bahwa nomor-nomor tarian yang identik menampilkan perempuan cantik dengan sejumlah lelaki sebagai penari itu menyimpan pesan moral berkehidupan, baik untuk kepentingan pribadi maupun bermasyarakat.

"Menawi kapan tarian menika wonteng ing dusun kawula, kadosipun mboten wonten ingkang mangertos. Lami saderengipun kulo lahir, sampun wonten tarian ronggeng ing dusun kawulo," kata seorang pemimpin grup ronggeng Dusun Kiyudan, Waris (42), di sela pementasan "Ronggeng Gunung" di Pendopo Padepokan Wargo Budoyo Gejayan, Dusun Gejayan, Desa Bayusidi, Kecamatan Pakis.

Komentar berbahasa Jawa itu dapat diartikan: "Sepertinya, tidak ada di antara kami yang tahu kapan lahir tarian ronggeng di dusun kami. Jauh sebelum kami lahir, sudah ada tarian ini di tempat kami."

Ratusan warga, baik laki-laki maupun perempuan, pemuda, anak-anak hingga orang tua, tampak berdesakan di pendopo padepokan pimpinan Riyadi. Mereka menyaksikan sajian tarian Ronggeng Gunung berkinerja asli Jawa, yakni baik gerak, musik, maupun tembangnya berbahasa Jawa.

Pementasan tarian ronggeng itu merupakan rangkaian Festival Lima Gunung XI/2012 di Gunung Merbabu, Dusun Gejayan, Desa Banyusidi (4-15 Juli). Festival tahunan secara mandiri itu digelar oleh seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh).

Sore hari sebelumnya, masih dalam rangkaian festival itu, panitia meluncurkan novel berjudul "65" karya Bre Redana (Jakarta) dengan nama Gitanyali.

Acara yang dipandu penyair Komunitas Lima Gunung, Dorothe Rosa Herliany, itu antara lain ditandai pembacaan nukilan novel itu oleh sastrawan Yogyakarta Joni Aryadinata, pentas musik dan performa seni berjudul "M&M" oleh komponis Memet Choirul Slamet dan penari Mila Rosinta dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Ada pula sajian tarian tradisional "Soreng Putri" dan "Gupolo Gunung" oleh seniman petani Padepokan Wargo Budoyo Gejayan.

Udara dingin malam sejak magrib di kawasan Gunung Merbabu, terasakan menyusup di antara kegembiraan penonton, penari, dan penabuh iringan musik tarian ronggeng yang disajikan seniman petani grup itu yang melibatkan sekira 40 anggota.

Sejumlah penyuguh festival berasal dari luar daerah setempat yang telah hadir di kawasan gunung itu juga turut menonton pementasan ronggeng tersebut.

Sebelum pementasan ronggeng, seorang sesepuh warga bernama Ngatman membakar kemenyan dan mengucapkan doa-doa selama beberapa saat, di dekat aneka sesaji yang ditata di pojok panggung, tidak jauh dari alat musik pengiring tarian ronggeng.

"Ramak alah ramak, krambilku depo piro. Depo loro. Ramak alah ramak. Krambilku dhoyong piro. Dhoyong loro."  Begitulah sebait tembang berbahasa Jawa yang mengiring penari perempuan dengan dua laki-laki yang masing-masing bertopeng penthul.

Tembang tersebut dilantunkan petinggi lainnya grup itu, Kasto Slamet (51), yang bersila di panggung pendopo, di samping penabuh kendang, Jumin Pawit (45). Alat musik pengiring tarian ronggeng mereka, antara lain kendang, angklung, terbang (ketipung khas Jawa), dan kopyak (alat musik terbuat dari bambu).

Cipto, warga setempat, yang malam itu berbaju batik menyaksikan pentas ronggeng dari teritis pendopo seakan langsung memahami maksud syair tembang dialog antara anak dengan bapak, mempertanyakan berapa tangkai buah kelapa yang telah muncul.

"Baru sekali ini ada pentas ronggeng di dusun kami," katanya.

Hingga saat ini tarian ronggeng tersebut terutama dipentaskan mereka di desanya antara lain bertepatan dengan tradisi merti desa saat Bulan Rejeb dan Ruwah (Kalender Jawa), serta Lebaran (Idul Fitri di bulan Syawal).

Momentum lainnya untuk pentas tarian tradisional yang minimal selama tiga jam itu juga terkait dengan permintaan warga yang sedang memiliki hajatan keluarga.

Kelompok mereka juga memiliki kesenian lainnya seperti ketoprak, karawitan, jatilan, dan soreng.

"Tarian ronggeng kami ini bukan tarian erotis. Kalau untuk pentas pada acara merti desa, selain untuk hiburan masyarakat, juga untuk tolak balak desa," kata Waris, yang juga mantan anggota Badan Permusyawaratan Desa Ketundan itu.

Saat ini, mereka hanya memiliki seorang penari perempuan tarian ronggeng, Lastri. Lainnya, penari laki-laki. Kalau tarian ronggeng umumnya memberi kesempatan kepada penonton laki-laki untuk menari bersama penari perempuan atau disebut ngibing, namun tidak demikian untuk grup itu.

Penari laki-laki diambil dari grup itu dan harus menggunakan topeng yang disebut penthul. Belasan topeng penthul yang mereka miliki menggambarkan para tokoh atau figur tertentu, seperti yang disebut penthul kaum, perawan, cucu perawan, erang-erang, cino, tembem, papak, kacung, macan, asu (anjing), dan wedhus (kambing).

Sejumlah nomor tarian yang mereka sajikan bertutur tentang "Babad Alas Begelen". Bercerita tentang Kadipaten Bagelan, sekarang masuk wilayah Kabupaten Purworejo. Ini mengisahkan pertemuan para punggawa desa membicarakan kehidupan masyarakat, seorang kaum yang marah-marah karena cucunya kalah berjudi yang dikisahkan berakhir dengan kesadaran untuk rajin shalat.

Selain itu, cerita sopan santun warga menerima kedatangan tamu yang dikisahkan dalam nomor tarian rogeng tentang warga Tionghoa dari Semarang bertamu kepada Lurah Janeng Suwito, untuk membeli tembakau.

Cerita lainnya, tentang transaksi ternak sapi, kerbau, kambing, ayam, dan pembukaan hutan Bagelen untuk memakmurkan masyarakat setempat melalui olah pertanian.

Seperti satu tembang Jawa pengiring ronggeng itu yang dilantunkan Kasto Slamet tentang bagaimana masyarakat mengolah pertanian, tersembul dalam syair "Gunung wetan nandur pari ketan. Gunung kidul nandur beras kimpul. Gunung kulon nandur kacang geol. Gunung lor nandur beras sego."

Artinya, "Gunung di Utara menanam beras ketan. Gunung di Selatan menanam beras kimpul. Gunung di Barat menanam kacang geol. Gunung di Timur menanam beras nasi." Bisa jadi tembang ini memaknai kearifan masyarakat Jawa yang berpola tanam heterogen guna menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan menghindari gagal panen akibat hama.

Beberapa nomor parikan pun juga menjadi pengiring tarian itu, antara lain berjudul "Ijo-ijo", "Lere-lere", "Kethek ogleng", "Soyang-soyang", "Sontoloyo", dan "Nono-nono".

Penari laki-laki selalu kesurupan setiap kali menari ronggeng bersama penari perempuan. Beberapa orang melepaskan topeng penthul yang dikenakan penari laki-laki kesurupan itu. Kemudian, mereka menggotongnya ke luar panggung. Penonton pun bertepuk tangan setiap kali penari laki-laki digotong meninggalkan pendopo padepokan.

Pada akhir sajian hingga tengah malam itu, tarian ronggeng menggambarkan pertemuan para lurah untuk merayakan pesta kesejahteran dan ketenteraman masyarakat Bagelan.

Selama ini, mereka masih terbatas membawakan lakon "Babat Alas Begelen" melalui berbagai kesempatan pementasan tarian ronggeng tersebut.

"Pesan-pesannya itu tersirat dalam tarian ronggeng dengan drama yang menyertai, seperti sopan santun, keteladanan dan nasihat hidup, rajin sembahyang, tekun bertani, dan memelihara alam," katanya.

Pesan yang ditebarkan melalui sajian Ronggeng Gunung itu, memang sekilas terkesan hanyalah nilai-nilai sederhana. Namun, untuk masyarakat dusun dengan alam pertanian gunung setempat, pesan-pesan kebajikan itu bagaikan pupuk penyubur kearifan hidupnya sehari-hari.
(U.M029/Z003)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Top News
Baca Juga