Jakarta (ANTARA News) -  Kalau pemimpin biasanya adalah orang yang serius dan tegas, maka tak terbayang jika Kabayan, tokoh imajinatif Sunda yang lucu, polos, cerdas tapi  sangat santai dalam hidup, dinobatkan sebagai presiden.

Dalam  lakon berjudul "Kabayan Jadi Presiden" yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat,  Kabayan  dinobatkan menjadi presiden sebuah negeri karena langkanya sosok pemimpin yang bisa mengayomi dan mengerti penderitaan rakyat.

Dalam karya Didi Petet itu, negeri yang dipimpin Kabayang sebelumnya  porak poranda akibat ulah politisinya yang hanya mementingkan kekuasaan daripada aspirasi rakyat.

Politikus negeri itu semakin sulit dipahami dan sibuk dengan kepentingannya sendiri dan partainya.

Rakyat kemudian rindu akan sosok pemimpin yang jujur, bersih, dan inspiratif yang bisa mensejahterahkan mereka.

Muncullah gagasan untuk mengusung Kabayan jadi presiden.

Kabayan adalah seorang penduduk desa yang lucu dan lugu. Hidup dengan seorang istri yang selalu bersyukur akan karunia dalam hidup mereka.Tapi kabayan selalu gelisah dan tidak cukup puas dengan kondisi negeri mereka.

"Kita harus bangkit dan melakukan perubahan," kata Kabayan yang diperankan oleh Tisna Sanjaya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jumat malam.

"Kang, sudahlah. lebih baik kita di sini saja. Di sini  kita bisa hidup tenang. Sawah kita masih luas. Hutan juga masih alami. Buat apa kang, berubah  teh naon?" kata Iteung yang diperankan Peggy Melati Sukma.

Hal ini lalu didengar oleh partai "Cak Cak Bodas" yang awalnya ingin mengusung calon prsidennya sendiri. Tetapi berubah pikiran setelah hasil survei menyebutkan Kabayan akan terpilih menjadi presiden.

Kabayan yang lugu tentu tidak mengerti jika dia hanya dimanfaatkan oleh partai ini. Dia akhirnya mau diusung oleh "Cak Cak Bodas" untuk menjadi calon presiden.

Kabayan pun terpilih jadi presiden. Apa yang terjadi? Dia hanya sebagai presiden boneka saja yang sedari awal memang sudah diniatkan oleh sang wakil presiden yang juga ketua partai (diperankan oleh Mank Imank).

Kabayan hanya dimanfaatkan. Dia juga tidak punya kemampuan untuk membawa negerinya ke arah lebih baik.

Setiap proyek pembangunan jadi sarang para koruptor dan dibagikan kepada cukong-cukong di belakangnya.

"Kabayan adalah kerinduan dan harapan kita pada pemimpin yang benar-benar mengubah nasib rakyatnya. Kalau di Melayu ada tokoh Hang Tuah, sunda ada Kabayan, Solo ada Joko Tingkir sekarang bernama Jokowi,semoga bisa membawa perubahan bagi negeri kita," kata Butet Kertarajasa dalam pengantarnya.

Butet merupakan salah satu tim kreatif lakon ini bersama Agus Noor dan Djaduk Ferianto.

"Kabayan Jadi Presiden" merupakan kelanjutan dari program "Indonesia Kita" yang bertujuan mengenalkan budaya Indonesia dengan cara kreatif kepada masyarakat.

(ans)