Sabtu, 25 Oktober 2014

Hillary: AS dukung pada transisi demokratis Mesir

| 4.711 Views
id krisis mesir, demokrasi mesir, menlu as, hillary clinton
Hillary: AS dukung pada transisi demokratis Mesir
Hillary Clinton (FOTO ANTARA/REUTERS/Yuri Gripas)
Saya datang ke Kairo untuk menegaskan dukungan kuat AS kepada rakyat Mesir dan transisi demokratis mereka,"
Kairo,15/7 (ANTARA/AFP) - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton Sabtu menegaskan "dukungan kuat" Washington bagi transisi demokratis Mesir, setelah berunding dengan Presiden Mohamed Moursi.

"Saya datang ke Kairo untuk menegaskan dukungan kuat AS kepada rakyat Mesir dan transisi demokratis mereka," kata Hillary dalam jumpa pers bersama dengan Menlu Mesir Mohammad Amr setelah pertemuan itu.

"Kami menginginkan satu mitra yang baik dan kami ingin mendukung demokorasi yang telah diperoleh dengan keberanian dan pengorbanan rakyat Mesir," katanya.

Dalam lawatan dua hari di Mesir, diplomat penting AS itu juga akan bertemu dengan Marsekal Hussein Tantawi- penguasa sementara negara itu setelah Hosni Mubarak digulingkan dalam satu pemberontakan rakyat tahun lalu-- serta para aktivis wanita dan para pemimpin Coptic.

Hillary datang saat terjadi konflik politik pergolakan kekuasaan antara presiden yang berasal dari kelompok Islam itu dan Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) yang memerintah Mesir setelah Mubarak digulingkan.

"Demokrasi memang sulit," katanya. "Demokrasi memerlukan dialog dan kompromi dan politik riil. Kami akan mendorong dan kami menginginkan itu bermanfaat. Tetapi kami tahu itu bukan untuk AS tetapi rakyat Mesirlah yang akan memutuskannya."

Pertemuan Hillary dengan Moursi yang lama menjadi anggota Ichwanul Muslimin terjadi setelah pemilihan presiden yang bebas pertama negara itu setelah penggulingan Mubarak sekutu AS puluhan tahun itu.

"Kami sangat, sangat ingin bertemu anda dan gembira anda ada di sini," kata Moursi kepada Hillary ketika mereka siap berembuk di istana kepresidenan di daerah pinggiran Hekiopolis Kairo.

Pekan lalu Moursi memerintahkan parlemen bersidang, mengabaikan keputusan militer yang membubarkan parlemen setelah pengadilan penting negara itu memutuskan dewan perwakilan rakyat itu tidak sah.

Keputusan Moursi iyu disambut baik oleh para pendukung yang menganggap keputusan pengadilan untuk membubarkan parlemen adalah bermotif politik, tetapi tindakannya itu menuai kecaman dari lawan-lawan politiknya yang menuduh dia melampaui wewenangnya.

Saat kedua pemimpin itu bertemu, ratusan pemrotes berkumpul di luar kedutaan besar AS di Kairo mengecam apa yang mereka katakan "Campur tangan AS dalam urusan domestik," kata kantor berita MENA.

Sebelum pertemuan itu, seorang pejabat penting Deplu AS mengemukakan kepada wartawan bahwa Hillary dalam perundingannya juga akan memfokuskan pada perlindungan minoritas-minoritas agama dan wanita.

Dia menegaskan keyakinannya yang kuat bahwa demokrasi Mesir hanya dapat berhasil, dan aspirasi-aspirasi revolusi hanya dapat diselamatkan jika hak-hak semua rakyat Mesir dilindungi, termasuk minoritas-minoritas agama dan hak-hak wanita," kata pejabat itu.

Kelompok Islam meraih kemenangan besar dalam pemilihan parlemen tiga tahap yang diselenggarakan November tahun lalu, dengan Ikhwanul Muslimin -- dari mana Moursi mengundurkan diri sebelum dilantik -- menguasai majelis rendah.

Perlakuan terhadap wanita adalah sesuatu yang Hillary khwatirkan dan ingin hak-hak wanita dan kesempatan-kesempatan wanita dihormati dan dilindungi dalam satu konstitusi baru dan satu tata demokratis baru," kata pejabat itu.

Moursi berulang-ulang berjanji menjadi seorang presiden untuk "seluruh rakyat Mesir" dan mengatakan ia akan mengangkat seorang wanita dan seorang Kristen sebagai wakil-wakilnya.

Ia juga meminta jaminan bahwa sekutu penting TimurTengah itu akan tetap menekankan pada keamanan kawasan itu dan menjunjung tinggi perjanjian perdamaian dengan Israel.

"Lebih dari tiga dasa warsa lalu Mesir dan Israel menandatangani satu perjanjian perdamaian yang memungkinkan satu generasi tumbuh tanpa perang dan berdasarkan landasan ini, kita akan bekerja sama untuk membangun satu perdamaian luas kawasan Timur Tengah," kata Hillary.

Pada tahun 1979, Mesir merupakan negara Arab pertama menandatangani satu perjanjian perdamaian dengan Israel, demikian AFP.
(H-RN/H-AK)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga