Rabu, 24 September 2014

Kementerian BUMN dan DRN sinergikan hasil riset

Senin, 16 Juli 2012 12:56 WIB | 4.868 Views
Kementerian  BUMN dan DRN sinergikan hasil riset
Dewan Riset Nasional (www.drn.go.id)
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan meminta Dewan Riset Nasional (DRN) mengumpulkan berbagai pemikiran dan hasil risetnya untuk disinergikan dengan sektor industri nasional di bawah kementeriannya.

"Kalau ada penemuan untuk masyarakat yang bisa diterapkan di BUMN sampaikan saja," kata Dahlan Iskan usai berbicara di depan seratusan ilmuwan pada Dialog Nasional "Mainstreaming Iptek dalam Pembangunan Nasional" pada Sidang Paripurna DRN di Jakarta, Senin.

Untuk saat ini, ujar Dahlan, pihaknya lebih memprioritaskan pengembangan produk beras, sorgum, gula, sagu dan peternakan sapi, sehingga riset-riset tentang hal-hal tersebut menjadi fokus penerapan.

Dalam kesempatan itu, Dahlan mengingatkan bahwa saat ini 51 persen kekuatan ekonomi ASEAN ada di Indonesia, 49 persen lainnya dibagi rata di antara ke-9 negara ASEAN lainnya, termasuk Singapura yang meski pendapatan perkapita penduduknya mencapai 40 ribu dolar AS namun jumlah penduduknya hanya 2,5 juta jiwa.

"Sebanyak 130 juta penduduk Indonesia masuk di kelas menengah, karena itu segala kebutuhan kelas menengah Indonesia harus makin menjadi perhatian para peneliti juga, misalnya soal kemacetan. Itu berarti transportasi," katanya.

Sementara itu, Ketua DRN, Prof Dr Andrianto Handojo, berharap hubungan riset dengan industri bisa lebih erat. DRN adalah suatu organisasi independen tempat berkumpulnya para pakar yang tugasnya memberi nasihat kepada Menteri Ristek.

"Untuk tahap awal mengkaitkan dengan industri di bawah BUMN yang jumlahnya lebih dari 100 perusahaan dan kebanyakan belum memiliki "link" dengan lembaga riset. Jika sudah ada kontak, maka usulan akan lebih mudah," katanya.

Sementara itu Deputi Menristek bidang Kelembagaan Prof Dr Benyamin Lakitan mengatakan, kontribusi iptek dalam pembangunan nasional masih rendah.

Ini dapat dilihat dari laporan World Economic Forum 2012 yang menyatakan kesiapan teknologi Indonesia hanya menempati ranking 94 dari 142 negara. Kalah dibanding Malaysia (44), Thailand (84), Vietnam (79) bahkan Filipina (83), ujarnya.

"Laporan ini menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih didorong oleh sektor konsumsi dengan potensi pasarnya yang sangat besar, dan pertumbuhan daya serap pasar yang tinggi," katanya.

Karena itu, menurut dia, era perdagangan bebas yang makin membuka peluang masuknya arus produk luar negeri ke pasar Indonesia harus disikapi dengan mendorong industri di dalam negeri memenuhi kebutuhan pasarnya sendiri.

"Caranya selain melindungi industri nasional dengan peraturan pembatasan impor, kebijakan fiskal serta insentif bagi usaha dalam negeri, juga dengan peningkatan daya saing industri nasional dengan pemanfaatan hasil-hasil riset," ujarnya.
(D009)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga