Denpasar (ANTARA News) - I Nyoman Gunarsa (60), maestro seni lukis modern asal Bali, meraih gelar doktor kehormatan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Pendiri Museum Seni Lukis Klasik Bali itu di Denpasar, Senin, mengatakan, penganugerahan gelar doktor kehormatan itu dilakukan Rektor ISI Yogyakarta Prof Dr AM Hermien Kusmayati SST SU dalam sidang senat terbuka, Sabtu (14/7).

Gunarsa dianggap berjasa dalam bidang seni lukis modern. Ia mendapatkan kesempatan menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul "Antara Kerta Gosa dan Yogyakarta: Pencerahan Estetika Multikultural".

Kemudian mantan dosen ISI Yogyakarta itu menunjukkan kemampuannya melukis seorang model perempuan.

"Pengalaman melihat benda-benda seni dan menekuni seni menjadi modal seorang seniman. Visual memori melihat artefak peningalan Kertagosa di Klungkung, Bali, menjadi modal kultural dalam menyerap ilmu seni dan estetika multikultural semasa studi dan berkarya di Yogyakarta," katanya.

Melalui seni dan aktivitas seni yang terbuka dapat meluaskan pergaulan dan menjalin persahabatan dengan berbagai pihak dari berbagai latar-belakang, sekaligus melalui seni dapat berinteraksi secara luas.

Gunarsa menambahkan bahwa proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik, jika dosen memberi contoh konkret dengan berkarya yang aktif dan menyosialisasikannya.

Terkait kasus HaKI yang pernah menimpanya, dia mengingatkan pentingnya mata kuliah tentang Hak Atas Kekayaan Intelektual itu diajarkan di sekolah tinggi seni agar para mahasiswa menyadari potensi dan problematika pada karya ciptanya.

Sebagai pengelola museum dan Ketua Perhimpunan Museum se-Bali, pihaknya banyak belajar dari karya seni klasik Bali bahwa seniman klasik Bali telah memiliki daya jelajah dan kreativitas yang tidak kalah eksploratifnya dibanding seniman moderen dan kontemporer.

Ia mencontohkan, seniman klasik di Bali berhasil membuat kertas media lukis dengan panjang dan lebar yang dalam ukuran sekarang pun, sangat luar biasa. Fakta-fakta itu perlu disosialisasikan secara terus-menerus, guna memotivasi generasi mendatang.

Demikian pula lembaga pendidikan seni, dan permuseuman saling membutuhkan, sehingga menuntut adanya kesadaran makro secara nasional agar pembangunan dan pemeliharaan sekolah seni dan museum seni mendapat perhatian serius dari Pemerintah.

Ia mengharapkan ISI Yogyakarta di kemudian hari memiliki sebuah museum modern, tidak harus berukuran besar, namun benar-benar memenuhi standar minimal sebagai tempat penyimpanan karya-karya seni terpilih dari alumni sekaligus wadah pembelajaran dan pelatihan multiguna secara akademik.
(I006)