Kamis, 21 Agustus 2014

Terlalu banyak tidur siang tingkatkan risiko dimensia

Selasa, 17 Juli 2012 20:22 WIB | 4.857 Views
Terlalu banyak tidur siang tingkatkan risiko dimensia
Ilustrasi (ANTARA News/lukisatrio)
Jakarta (ANTARA News) - Penelitian terkini menunjukkan terlalu banyak tidur siang di usia lanjut dapat mempercepat perkembangan dimensia dan penurunan fungsi kognitif.

Pada Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer, ilmuwan menemukan bahwa terlalu banyak dan tidak cukup tidur, meningkatkan usia mental sebanyak dua tahun. Mereka bependapat tidur berperan penting dalam penurunan mental. Mereka berpendapat tidur selama tujuh jam adalah jumlah yang pas.

Temuan terakhir ini menambahkan bukti bahwa kualitas dan kuantitas tidur pada lansia dapat berpengaruh negatif pada kesehatan dan meningkatkan risiko sejumlah penyakit seperti penyakit jantung dan diabetes, Medical Daily melaporkan.

"Kita tahu bahwa pola tidur berubah seiring usia dan tidak cukup tidur berdampak pada kesehatan secara keseluruhan," kata Dr. William Thies dari Asosiasi Alzheimer, dalam sebuah pernyataan.

"Apa yang belum kami ketahui dengan persis adalah apakah kurang tidur memliki konsekuensi jangka panjang pada fungsi kognitif," tambahnya.

Thies mengatakan bahwa meskipun temuan baru-baru ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki gangguan tidur akan mengalami penurunan fungsi kongnitif jangka panjang, sisi baiknya adalah perangkat untuk memonitor durasi tidur dan kualitasnya sudah ada. Alat itu dapat membantu mengembalikan pola tidur kembali ke normal.

Peneliti dari Brigham and Women's Hospital di Boston Elizabeth Devore dan kolega-koleganya memriksa data lebih dari 15.000 peserta yang berusia 70 tahun ke atas. Tidur harian peserta dimonitor dan dibagi dalam empat grup: 5,6,7,8 atau lebih atau sama dengan 9 jam.

Devore menemukan bahwa peserta yang tidur kurang dari atau lima jam dan sembilan jam atau lebih per hari memiliki kognisi rata-rata rendah dibanding peserta yang tidur tujuh jam per hari. Terlalu banyak atau terlalu sedikit tidur sebanding dengan percepatan penuaan kognitif selama dua tahun.

"Temuan kami mendukung dugaan bahwa durasi tidur berlebihan dan perubahan durasi tidur bisa jadi berkontribusi terhadap penurunan kognitif dan perubahan Alzheimer dini pada orang dewasa dan tua," kata Devore.

"Temuan ini dampak berdampak penting pada kesehatan publik. Temuan ini dapat berujung pada strategi identifiksi tidur untuk mengurangi risiko gangguan kognitif dan Alzheimer," tambahnya.

Peran tidur dalam gangguan kognitif juga ditunjukkan dalam dua studi tambahan yang dipresentasikan di konferensi. Dalam studi pertama yang diikuti hampir 4.900 peserta selama lebih dari delapan tahun, ditemukan bahwa risiko penurunan kognitif meningkat ketika pasien memiliki kantuk berlebihan dalam sehari.

Studi yang dipimpin Claudine Berr dari National Institute of Health and Medical Research (INSERM) Prancis juga menunjukkan kesulitan tidur pada malam hari berkaitan dengan penurunan kognitif.

"Riset ini menunjukkan bahwa rasa kantuk berlebihan mungkin prediksi dini penurunan kognitif," katanya.

Studi terpisah yang melibatkan 1.300 perempuan berusia di atas 75 tahun menunjukkan bahwa orang dengan gangguan pernapasan saat tidur berisiko dua kali menimbulkan Mild Cognitive Impairment (MCI), gangguan kognitif ringan, kondosi yang biasanya menjadi gejala Alzheimer.

Peneliti Kritine Yaffe dari University of California, San Francisco, mengatakan penemuan ini menyarankan dokter harus melakukan pemeriksaan saraf utnuk pasien denan gangguan tidur.

"Secara keseluruhan, temuan kami mendukung hubungan antara gangguan tidur dan penurunan kognitif di usia senja. Temuan ini menunjukkan praktisi kesehatan harus mempertimbangkan menaksir perubahan kognisi orang-orang tua dengan gangguan tidur," kata Yaffe dalam pernyataan.

"Sebagai tambahan, dengan tambahan riset jangka panjang, perawatan terhadap gangguan tidur mungkin menjadi metode yang menjanjikan dalam menunda perkembangan MCI dan dimensia," tambahnya.

Yaffe menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami gangguan dalam ritme sirkadian selama studi lima tahun itu cenderung mengalami MCI.

"Kami yakin hasil riset mengindikasikan hubungan antara gangguan pernapasan saat tidur dan dimensia terhubung dengan penurunan oksigen dan tidak mengganggu pola tidur," tutupnya.

(nta)

Penerjemah: Natisha Andarningtyas

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga