Jakarta (ANTARA News) - Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Indonesia Effendi Gazali mengatakan masyarakat jangan terlalu mempercayai hasil survei dari lembaga survei yang merangkap menjadi konsultan calon yang bertarung dalam pemilihan umum.

"Lembaga survei itu ada dua yakni yang murni membuat hasil survei dan kedua ada juga yang merangkap menjadi konsultan," ujar Effendi di Jakarta, Rabu.

Lembaga survei yang murni membuat hasil survei, lanjut dia, akan memaparkan hasil survei apa adanya.

Berbeda dengan lembaga survei yang juga merangkap sebagai konsultan, yang mempunyai dua strategi tersendiri.

"Strategi mereka untuk internal mereka mengungkapkan hasil survei yang sebenarnya, sedangkan untuk yang eksternal mereka suka melebih-lebihkan agar orang lain terpengaruh," katanya.

Hal itu, kata Effendi, dilakukan untuk mendapatkan tiket politik dalam pencalonannya tersebut dan juga menggiring opini publik.

"Oleh karena itu masyarakat jangan terlalu percaya terhadap hasil lembaga survei yang merangkap sebagai konsultan," katanya.

Menurut dia, jika lembaga survei itu juga merangkap sebagai konsultan sebaiknya diberi tahu terlebih dahulu.

Sementara itu, menjelang pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 11 Juli, sejumlah lembaga merilis hasil survei yang mayoritas menempatkan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli sebagai pasangan yang paling banyak dipilih.

Dalam hitung cepat setelah pemilihan, sejumlah lembaga survei merilis hasil yang menunjukkan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama meraih suara terbanyak.

(I025)