Kamis, 31 Juli 2014

Arbi Sanit nilai 14 tahun reformasi tidak ada perubahan

Rabu, 18 Juli 2012 16:53 WIB | 1.581 Views
Arbi Sanit nilai 14 tahun reformasi tidak ada perubahan
Pengamat Politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit (FOTO ANTARA/Andika Wahyu )
Jakarta (ANTARA News) - Pengamat politik Arbi Sanit mengatakan tidak ada perubahan yang berarti dalam kehidupan berbangsa setelah hampir 14 tahun reformasi karena memang tidak ada arah perjalanan yang jelas.

"Reformasi hanya berjalan sebatas amandemen konstitusi, selanjutnya relatif tidak ada perubahan," kata Arbi Sanit pada Diskusi "Bangkitnya Golkar dan Partai Partai Neo Orde Baru" di Jakarta, Rabu.

Pembicara pada diskusi tersebut adalah, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mochtar Pabottingi, pengamat sosial dari Universitas Indonesia Thamrin Amal Tamagola, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) Judilherry Justam, penulis Martin Aleida, serta aktivis mahasiswa 1998 Kasino.

Arbi Sanit menilai, setelah hampir 14 tahun reformasi relatif tidak ada perubahan karena tidak ada arah dan sudah terjebak oleh perangkap orde baru sejak awal.

Pengamat politik dari LIPI, Mochtar Pabotingi menegaskan, jebakan tersebut adalah dengan tampilnya Wakil Presiden pada era orde baru yakni BJ Habibie sebagai presiden pada era reformasi.

"Masyarakat kala itu seharusnya menolak, karena Habibie merupakan bagian dari orde baru. Habibie seharusnya mundur bersama Soeharto," katanya.

Menurut dia, kepemimpinan Presiden Habibie selama sekitar satu tahun membuat ada ada kompromi antara tuntutan reformasi dan orde baru, sehingga tidak ada pejabat orde baru yang diadili di pengadilan.

Arbi Sanit menambahkan, setelah era reformasi realisasi dari tuntutan masyarakat yang menguat pada proses reformasi secara berangsur-angsur melemah.

Tokoh-tokoh reformasi seperti Amien Rais dan KH Abrurrahman Wahid, menurut dia, tidak berdiri pada posisi netral, tapi terjebak dalam jebakan orde baru.

Ia mencontohkan, Amien Rais ikut bergabung bersama Akbar Tandjung dan BJ Habibie pada organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang notabene adalah bagian dari orde baru.

"Amien Rais juga malah mendirikan partai politik. Demikian juga KH Abdurrahman Wahid mendirikan partai politik, yang menjadikan dirinya tidak netral," katanya.

Arbi menambahkan, selama hampir 14 tahun perjalanan reformasi nuansanya relatif sama dengan era orde baru.
(R024/U002)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga