Senin, 22 September 2014

Harga daging melonjak

Rabu, 18 Juli 2012 19:57 WIB | 1.486 Views
Harga daging melonjak
Pedagang daging ayam (ANTARA/Dian Dwi Saputra)
Jakarta (ANTARA News) - Pedagang daging ayam di Pasar Pondok Gede, Jakarta Timur, Hj. Mus, mengungkapkan kekesalannya pada kenaikan harga daging menjelang bulan puasa.

"Ini bukan naik harga, tapi ganti harga. Kalau naik ya cuma seribu dua ribu, ini sampai delapan ribu per kilo,"

Pemasok biasanya menjual ayam kecil seharga rp17.000 , namun menjelang bulan puasa, harga itu melambung menjadi rp23.000.

Mus tidak bisa protes ketika omsetnya berkurang. Di hari ramai dia bisa menjual hingga 150 ekor. Namun, saat sepi pengunjung, bisa menjual 100 ekor sudah merupakan anugerah.

Hal yang sama terjadi pada pedagang daging ayam lain di pasar yang sama, Nardi (52). Lelaki yang berjualan di Pasar Pondok Gede sejak 29 tahun lalu itu mengatakan kenaikan harga ayam terjadi setiap hari secara bertahap.

"Naiknya rp100-200... sekarang kenaikan harga sudah sampai rp10.000," ungkap dia.

Nardi pun maklum bila pembelinya berkurang. Dia bersyukur ada pelanggan yang membeli ayamnya setiap hari, seperti tukang sayur keliling. Walau begitu, kuantitas pembeliannya pun berkurang.

"Biasanya beli lima ekor, sekarang cuma tiga. Pembeli lain juga kalau lewat, nanya harga, abis itu pergi," keluh dia.

Nasib pedagang daging sapi tidak jauh berbeda. Harga daging sapi juga melonjak tinggi jelang Ramadhan. Di Pasar Ciracas, Jakarta Timur, harga daging melambung menjadi rp85.000/ kilo.

Wahyu Ramdoni, salah satu pedagang, mengemukakan stok daging dari pemasok berkurang. Selain itu, pemasok juga mematok harga lebih mahal sehingga mau tidak mau dia pun mengubah harga jualnya.

"Tadinya harga daging rp78.000, karena tambah mahal omset pun menurun, sekitar lima persen," kata dia.
Wahyu yang sudah berjualan semenjak tahun 80-an itu mengaku harga yang sudah naik sulit diturunkan kembali.

"Kalau sudah naik susah turun, apalagi orang-orang eksekutif. Males turun," kelakar dia.

Dia mengkritik kebijakan pemerintah yang membiarkan fenomena ini tidak membaik dari tahun ke tahun.

"Saya jualan daging dari harganya masih 15.000, sekarang sudah 85.000, tidak ada perubahan. Pemerintah ini memang cuma merem doang nggak merhatiin rakyat kecil," keluh dia.

Harga ikan pun turut melonjak, seperti diakui Farida (17) yang menjual ikan di Pasar Pondok Gede.

Namun, dia merasa nasib pedagang ikan lebih baik daripada pedagang ayam maupun sapi. "Walau tambah mahal ikan tetap lebih murah, jadi masih laku," kata dia.

Farida menganggap kenaikan harga menjelang bulan puasa itu adalah tradisi.

"Memang sudah biasa, setiap bulan puasa stok udang jadi sedikit. Kalau ikan sih banyak tapi harganya tambah mahal dari sananya," kata penjual yang memasok barang dagangannya dari Muara Baru itu.

Farida mengemukakan, kenaikan harga berkisar dari rp2.000-rp5.000. Udang yang tadinya dihargai rp50.000/ kg kini dibanderol menjadi rp55.000/kg sementara itu ikan tongkol yang tadinya rp25.000/kg naik menjadi rp28.000/kg.
 
Para pembeli daging pun memutar otak untuk bisa mengatasi kenaikan harga, salah satunya Sumiyati (52) yang sedang berbelanja di Pasar Pondok Gede, Jakarta Timur.

"Saya beli sedikit-sedikit saja, secukupnya. Kalau dulu bisa beli sekilo, sekarang jadi setengah kilo. Yang penting ada," kata dia.

(nan)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga